Rupiah Anjlok Hampir 8% Sejak Awal Tahun 2026, Cermati Prospeknya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,17% secara harian ke level Rp 18.027 per dolar AS pada Selasa (4/8/2026).

Secara year to date (ytd), rupiah telah melemah 7,78% dari posisinya di level Rp 16.725 per dolar AS pada 2 Januari 2026. 

Sejumlah ekonom memprediksi volatilitas rupiah masih akan tetap tinggi dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya kebijakan moneter global dan domestik hingga disiplin dalam kebijakan fiskal.


Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, dalam beberapa minggu ke depan, rupiah akan sangat dipengaruhi  perkembangan harga minyak dan keamanan Selat Hormuz. 

Baca Juga: Rupiah dan Obligasi Tertekan, Mirae Soroti Ketidakpastian Kebijakan

Setiap gangguan baru yang mendorong minyak menuju atau melampaui US$ 100 per barel akan meningkatkan perkiraan impor energi, subsidi, inflasi, dan defisit transaksi berjalan Indonesia. 

“Sebaliknya, normalisasi pelayaran dan penurunan minyak akan menjadi katalis penguatan rupiah paling cepat,” ujar Josua kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). 

Josua menambahkan, faktor global berikutnya adalah data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat, pertemuan Jackson Hole pada akhir Agustus, serta keputusan suku bunga September.

Perekonomian Amerika yang tetap kuat akan mempertahankan imbal hasil obligasi dan dolar pada tingkat tinggi.

Sebaliknya, penurunan inflasi dan pelemahan pasar kerja yang meyakinkan dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan memperbaiki arus modal ke negara berkembang.

Baca Juga: Mata Uang Asia Tertekan Rabu (29/7) Pagi, Rupiah Jebol Level Rp 18.100 per Dolar AS

Adapun, dari dalam negeri, pasar akan memantau data cadangan devisa, transaksi berjalan, perkembangan neraca perdagangan, kebutuhan penerbitan SBN, serta konsistensi kebijakan BI.

Inflasi Juli yang turun menjadi 2,88% dengan inflasi inti 2,76% merupakan kabar baik, tetapi belum cukup menjadi alasan menurunkan suku bunga ketika rupiah masih tertekan.

“Kesungguhan reformasi bursa juga menjadi sentimen penting. Pasar membutuhkan jadwal penerapan yang terbuka, data kepemilikan yang dapat diverifikasi, peningkatan saham beredar publik, serta pengumuman tindakan penegakan hukum,” terang Josua. 

Josua menilai pemulihan arus modal saham akan jauh lebih kuat bagi rupiah dibandingkan arus masuk sementara ke SRBI karena mencerminkan kepercayaan terhadap prospek perusahaan dan tata kelola ekonomi dalam jangka panjang. 

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Muhammad Rizal Taufikurahman mengatakan, reformasi kebijakan bursa memang memengaruhi persepsi investor, terutama terkait tata kelola, transparansi, free float, dan perlindungan investor. 

Baca Juga: Kurs Rupiah Melemah 9 Bulan Beruntun, Ini Posisi Terakhir pada Akhir Juli 2026

“Namun, faktor tersebut bukan penyebab utama pelemahan rupiah,” ujar Rizal. 

Rizal menyebut, tekanan terbesar tetap berasal dari faktor global, neraca pembayaran, kebutuhan devisa, arus modal, serta konsistensi kebijakan fiskal dan moneter.

Reformasi bursa penting untuk memperbaiki sentimen, tetapi tidak cukup apabila fundamental makroekonomi masih tertekan. 

Adapun, dalam jangka pendek, Rizal memperkirakan rupiah berpotensi tetap bergerak fluktuatif pada kisaran Rp 17.800 – Rp18.300 per dolar AS. Tekanan global masih cukup dominan, sehingga ruang penguatan cenderung terbatas.

Dalam jangka menengah, peluang penguatan tetap ada apabila harga energi turun, surplus perdagangan kembali membesar, dan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi domestik membaik. 

Sementara Josua memproyeksikan dalam jangka pendek rupiah kemungkinan masih bergerak lemah dan mudah berubah pada kisaran Rp 17.900 – Rp18.250 per dolar AS.

Rupiah dapat beberapa kali bergerak di bawah Rp18.000 ketika BI melakukan intervensi atau harga minyak turun, tetapi penguatan tersebut sulit bertahan selama neraca perdagangan masih defisit dan pasar tetap memperkirakan suku bunga Amerika Serikat tinggi.

Baca Juga: Badai yang Melanda Rupiah Belum Berlalu

Ia bilang, pelemahan menuju Rp 18.300 dapat terjadi apabila harga minyak kembali melonjak, arus keluar meluas dari saham ke SBN dan SRBI, atau pasar kecewa terhadap pelaksanaan reformasi bursa. 

Sebaliknya, penguatan menuju Rp 17.700 – Rp17.900 memerlukan kombinasi penurunan minyak, pelunakan arah kebijakan bank sentral Amerika, serta arus asing yang mulai kembali ke saham dan SBN. 

“Dalam skenario dasar, saya memperkirakan rupiah pada akhir 2026 berada pada kisaran Rp 17.900 – Rp18.200 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 18.050,” jelas Josua.  

Josua mengatakan, proyeksi tersebut mempertimbangkan defisit transaksi berjalan yang melebar, harga energi yang masih tinggi, serta suku bunga global yang belum cepat turun.

Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp 18.080 per Dolar AS, Terburuk di Asia pada Perdagangan Pagi

Namun, inflasi domestik yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, dan intervensi BI dapat mencegah pelemahan menjadi tidak terkendali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News