KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Rupiah kembali keok, tertekan hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan tingginya kebutuhan valas domestik. Mengutip
Bloomberg, Kamis (4/6/2026) pukul 12.45 WIB, rupiah melemah 0,42% ke level Rp 18.043 per dolar AS. Sebelumnya, pada Rabu (3/6), rupiah ditutup melemah 0,71% ke posisi Rp 17.967 per dolar AS. Merespons pelemahan tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian global.
"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara
emerging," ujar Destry dalam keterangan resminya, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: Kementerian Imipas Dukung Penuh KPK, Izinkan Buka Akses Data Usai OTT Imigrasi Lebih lanjut Destry menyebut, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN). Di tengah tekanan tersebut, BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk memastikan pergerakan nilai tukar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. "Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," kata Destry. Selain itu BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter
pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik Menurut Destry, intervensi akan dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai instrumen yang selama ini digunakan BI, baik di pasar
offshore maupun domestik. "Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar
offshore, transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp 18.000, Purbaya Ungkap Penyebab Rupiah Anjlok Selain intervensi pasar, BI juga terus mendorong dan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar "Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab," kata Destry. Ia mengungkapkan penggunaan skema LCT terus meningkat. Pada April 2026, nilai transaksi melalui skema tersebut mencapai sekitar 22,7 miliar, mendekati total transaksi sepanjang tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar.
Meski rupiah tertekan, BI menilai pelemahan mata uang Garuda masih sejalan dengan tren yang terjadi di kawasan. "Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026," tutur Destry. Dengan cadangan devisa yang masih tinggi dan langkah stabilisasi yang terus dilakukan, BI berharap volatilitas rupiah dapat tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News