Rupiah Anjlok ke Rp 17.300, Pemerintah Sebut Akibat Meningkatnya Tekanan Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah anjlok ke level Rp 17.300 per dollar As, dipicu oleh meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan.

Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih dipengaruhi gejolak global yang juga berdampak pada mata uang negara lain di kawasan.


Baca Juga: Gubernur BI: Rupiah Sudah Undervalued, Diproyeksi Menguat Seiring Fundamental Ekonomi

Diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot pada Kamis (23/4/2026) dibuka melemah di level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan hingga pukul 10.15 WIB, rupiah tertekan ke posisi Rp 17.303 per dolar AS atau melemah 0,71% dibandingkan hari sebelumnya.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Penyebabnya kan kita lihat gejolak global juga, jadi kita monitor saja,” ujar Airlangga di Kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga: Ada Gejolak Global, Begini Langkah BI Jaga Rupiah dan Dorong Ekonomi

Ia menambahkan, pemerintah tidak akan bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar. Menurutnya, stabilisasi rupiah merupakan bagian dari kewenangan otoritas moneter.

“Ini tidak bisa setiap hari kita reaktif. Itu tugas Bank Indonesia untuk menjaga dengan kebijakannya,” jelasnya.

Pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus mencermati dinamika pasar keuangan global, termasuk dampak dari ketegangan geopolitik yang mendorong volatilitas nilai tukar di berbagai negara.

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga di 4,75% pada April 2026, Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News