Rupiah Bangkit Setelah Tekanan Beruntun Jadi Rp 18.058 Per Dolar AS,



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah sebelumnya mengalami tekanan dalam beberapa hari perdagangan terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.058 per dolar AS pada Selasa (9/6), menguat 0,72% dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 18.188 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp 18.141 per dolar AS, membaik dari posisi sebelumnya Rp 18.171 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah ditopang membaiknya sentimen pasar global setelah muncul sinyal deeskalasi konflik di Timur Tengah.


Baca Juga: Penuhi Free Float, Pradiksi Gunatama (PGUN) Bakal Lepas 4,88% Saham

Menurut dia, pasar merespons positif pernyataan Iran dan Israel yang mengindikasikan penghentian serangan satu sama lain setelah adanya dorongan diplomatik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan energi global, termasuk risiko terganggunya jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

"Sentimen pasar global membaik setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda sehingga mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang," ujar Ibrahim dalam risetnya, Selasa (9/6).

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati langkah pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Pemerintah disebut tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Di sisi lain, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan. Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Meski demikian, Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal, terutama data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Pasar saat ini mencermati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang diperkirakan menunjukkan inflasi tetap tinggi. Jika inflasi AS kembali meningkat, ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve berpotensi semakin tertunda sehingga dapat menopang penguatan dolar AS.

Untuk perdagangan Rabu (10/6), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.100 per dolar AS. 

Baca Juga: Steel Pipe Industry (ISSP) Bagikan Dividen Rp 20 per Saham dari Laba Tahun 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News