Rupiah bayangi emiten farmasi



JAKARTA. Kebutuhan masyarakat akan obat membuat prospek kinerja emiten sektor farmasi cukup bagus. Maka itu, emiten sektor farmasi, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan PT Indofarma Tbk (Tbk), terus berekspansi untuk memenuhi permintaan.

Ambil contoh, KLBF, akan mulai mengoperasikan pabrik obat kanker (onkologi) di pertengahan tahun ini. Sementara, KAEF telah menyiapkan lima ekspansi tahun ini. Diantaranya, pembangunan pabrik baru di Bandung, Jawa Barat, akuisisi PT Asuransi Jiwa InHealth, membangun fasilitas pabrik bahan baku dengan kriteria khusus bidang farmasi, membangun kantor dan gudang baru, serta membangun 100 klinik.

Tak mau tertinggal, INAF akan membangun pabrik obat Tuberculosis (TBC) dan pabrik obat herbal di tahun ini. INAF juga mulai menggenjot ekspor obat ke beberapa negara seperti Afganistan, Irak, serta beberapa negara di Asia Tenggara dan Afrika.


Analis Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe mengakui, industri farmasi dalam negeri masih tergantung pada bahan baku dari luar. Oleh karena itu, emiten farmasi harus lebih gencar dalam ekspansi, tidak hanya dengan menambah produksi, namun juga ekspansi dalam hal riset.

Pasalnya, sebagian besar obat masih mengunakan lisensi dari asing. Bahan baku yang digunakan juga berasal dari luar negeri.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, perusahaan farmasi mempunyai anggaran untuk riset sekitar 20% dari belanja modal. "Sedangkan di Indonesia, hanya KLBF yang mempunyai anggaran untuk riset, itupun dengan jumlah yang masih kecil," imbuh Kiswoyo.

Namun, dia menilai, ekspansi emiten farmasi membangun pabrik baru itu sebagai satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap asing. Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang menyatakan, emiten sektor farmasi perlu ekspansi untuk diversifikasi produk. Misalnya, dengan memproduksi produk kesehatan di luar obat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan sektor farmasi di masa depan.

Imbas rupiah melemah

Tahun lalu, Edwin menilai, sektor farmasi masih mencatatkan pertumbuhan meski tidak sesuai dengan perkiraan. Sektor farmasi ikut tertekan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. "Ini karena bahan baku farmasi sebagian besar diekspor dari luar," ujar dia.

Namun ke depannya, Edwin memperkirakan, rupiah akan menguat hingga ke 11.000 per dollar AS. Akibatnya, biaya produksi industri farmasi bisa menciut.

Selain penguatan rupiah, sektor farmasi juga diuntungkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Adanya jaminan kesehatan, membuat permintaan obat generik semakin meningkat. "Emiten yang memproduksi obat generik lebih banyak seperti KLBF, kinerjanya bisa naik cukup signifikan," imbuh Andi Ferdinand, Kepala Riset Batavia Prosperindo sekuritas.

Tapi, kata Kiswoyo, INAF dan KAEF akan mendulang keuntungan lebih besar dari program BPJS. "Mereka sudah biasa memasok obat untuk program kesehatan pemerintah," imbuh dia.

Namun secara umum, para analis menilai, KLBF lebih kuat dibanding emiten lain. Sebab, KLBF memiliki diversifikasi produk yang lebih lengkap. Kata Edwin, KLBF memiliki produk dari makanan ibu dan anak, hingga produk vitamin. KLBF juga dinilai lebih cepat dalam mengambil kebijakan, termasuk dalam hal ekspansi.

Ini berbeda dengan INAF dan KAEF yang notabene sebagai emiten farmasi milik pemerintah (BUMN). Apalagi, kedua emiten itu masih terganjal permasalahan kesehatan kinerja keuangan.

Secara sektoral, Edwin memperkirakan, pendapatan emiten sektor farmasi tahun ini bisa tumbuh 10%-12,5%. Sedangkan, Kiswoyo memperkirakan, pertumbuhan pendapatan sektor farmasi naik 5%-10% tahun ini.      

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana