KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah hingga akhir 2026 diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Tekanan terhadap mata uang Garuda memang mulai mereda dibandingkan periode sebelumnya, tetapi sejumlah indikator fundamental menunjukkan ruang penguatan rupiah masih terbatas. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendi Manilet menilai, posisi rupiah yang masih bertahan di sekitar Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) mencerminkan fase konsolidasi setelah mengalami tekanan cukup besar pada pertengahan tahun. Menurut Yusuf, kondisi pasar saat ini sudah lebih stabil dibandingkan ketika rupiah mengalami tekanan tajam. Namun, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin bahwa tren pelemahan rupiah telah berakhir.
"Pasar sudah tidak berada dalam kondisi panik, tetapi juga belum memiliki keyakinan bahwa tren pelemahan rupiah benar-benar telah berakhir," kata Yusuf kepada Kontan, Sabtu (29/8/2026).
Baca Juga: Dari Wacana Pengahapusan Sahan Gocap hingga Regulasi Ojol, Ini Prospek GOTO Mengutip Bloomberg, Senin (31/8/2026) pukul 12.30 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,31% ke level Rp 17.747 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah di pasar spot menguat 0,29% secara harian ke Rp 17.693 per dolar AS pada Jumat (28/8).
Rupiah membaik dari level Rp 18.000
Yusuf mencermati, secara bulanan rupiah sebenarnya telah menunjukkan perbaikan dibandingkan posisi pada Juli 2026 yang sempat mendekati Rp 18.000 per dolar AS. Meski demikian, secara year to date (ytd), nilai tukar rupiah masih berada dalam posisi yang lebih lemah dibandingkan awal tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa penguatan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir belum cukup untuk menghapus seluruh tekanan yang dialami rupiah sepanjang 2026. Stabilitas rupiah saat ini, menurut Yusuf, terutama ditopang oleh kebijakan stabilisasi Bank Indonesia (BI) di pasar spot dan derivatif. Penguatan instrumen lindung nilai juga menjadi salah satu upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Sentimen terhadap rupiah turut memperoleh dorongan setelah Komisi XI DPR menyepakati Destry Damayanti sebagai Gubernur BI periode 2026-2031. Dari perspektif pasar, Yusuf menilai penetapan Destry memberikan unsur kesinambungan karena sebelumnya telah menjalankan tugas sebagai pejabat gubernur sementara. Destry juga dinilai memahami berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan swap. "Pernyataannya bahwa suku bunga tidak bisa dinaikkan hanya untuk menjaga nilai tukar karena pertumbuhan ekonomi masih di bawah potensinya juga memberi sinyal bahwa BI akan lebih mengandalkan bauran kebijakan," jelasnya.
Kepemimpinan BI belum jadi penentu rupiah
Meski memberikan sentimen positif, Yusuf menilai kepemimpinan baru BI belum menjadi faktor utama yang menentukan arah rupiah. Menurutnya, kredibilitas kepemimpinan baru BI masih akan diuji oleh perkembangan sejumlah indikator eksternal, mulai dari cadangan devisa dan transaksi berjalan hingga konsistensi komunikasi kebijakan setelah pelantikan.
Baca Juga: Astra (ASII) Rogoh Rp 858 Miliar, Borong Saham AUTO Lewat Tender Sukarela Dari sisi fundamental, penopang rupiah saat ini lebih banyak berasal dari kebijakan stabilisasi BI serta kembali masuknya modal portofolio. Kondisi tersebut berbeda dengan periode ketika surplus perdagangan menjadi salah satu sumber dukungan utama bagi nilai tukar. Yusuf mencatat surplus perdagangan Indonesia pada Januari-Juni 2026 hanya sekitar US$ 3,58 miliar. Bahkan, pada Juni 2026 Indonesia mengalami defisit perdagangan. Sementara itu, transaksi berjalan pada kuartal II-2026 mengalami defisit US$ 12,5 miliar atau sekitar 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kondisi tersebut mengindikasikan kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia masih meningkat.
Cadangan devisa masih jadi bantalan
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 masih relatif kuat, yakni sebesar US$ 145,3 miliar atau setara lebih dari lima bulan impor. Namun, posisi cadangan devisa tersebut telah menurun dibandingkan sekitar US$ 156 miliar pada akhir 2025. "Jadi bantalan eksternal kita masih memadai, tetapi tidak setebal sebelumnya," ujar Yusuf. Arus modal portofolio menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga stabilitas rupiah. Investasi portofolio asing mencatat inflow neto sekitar US$ 8,5 miliar pada kuartal II-2026 dan masih berlanjut hingga pertengahan Agustus. Aliran dana tersebut terutama masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI. Meski memberikan dukungan terhadap rupiah, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa nilai tukar masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap arus dana portofolio asing. Jika sentimen investor global berubah secara signifikan, aliran modal tersebut berpotensi berbalik arah dan kembali memberikan tekanan terhadap rupiah.
Harga minyak dan The Fed jadi risiko rupiah
Dari sisi eksternal, pelemahan dolar AS berpeluang menjadi katalis positif bagi rupiah. Kondisi tersebut dapat terjadi terutama apabila yield US Treasury menurun dan pasar melihat Federal Reserve (The Fed) semakin akomodatif terhadap kebijakan moneter. Sebaliknya, risiko pelemahan rupiah tetap terbuka apabila terjadi perubahan sentimen global. Dengan defisit transaksi berjalan yang cukup lebar, perekonomian Indonesia juga menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan harga energi maupun pembalikan arus modal asing. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembiayaan impor energi. Pada saat yang sama, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memicu pergeseran arus modal global dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Proyeksi rupiah akhir 2026
Untuk akhir 2026, Yusuf memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.650-Rp 17.950 per dolar AS. Sementara itu, area Rp 17.800-Rp 17.900 per dolar AS dinilai sebagai level yang paling realistis bagi rupiah hingga penghujung tahun. Menurut Yusuf, penguatan rupiah hingga menembus level Rp 17.600 per dolar AS membutuhkan kombinasi sentimen positif yang cukup kuat. Sebaliknya, apabila harga minyak kembali meningkat atau The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish, rupiah masih berpotensi kembali menguji level Rp 18.000 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News