Rupiah berbalik melemah akibat profit taking dan rendahnya penerimaan negara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah yang konsisten menguat selama sepekan kemarin menggoda pelaku pasar untuk melakukan aksi profit taking. Alhasil, pergerakan rupiah, Selasa (16/7) jadi terkoreksi.

Mengutip Bloomberg di pasar spot, rupiah berbalik melemah 0,11% ke Rp 13.935 per dollar Amerika Serikat (AS). Sementara, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah masih mencatatkan penguatan 0,32% di Rp 13.925 per dollar AS.

Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan, biasanya ketika terjadi penguatan yang signifikan maka akan ada aksi ambil untung dan hal ini yang membuat rupiah terkoreksi. Namun, Yudi memproyeksikan rupiah di perdagangan, Rabu (17/7), akan kembali menguat karena didukung beberapa sentimen dari dalam dan luar negeri.


Dari dalam negeri, rupiah didukung data neraca dagang yang surplus US$ 200 juta di periode Juni. Selain itu, usainya ketegangan politik dalam negeri dan penyampaian visi misi presiden terpilih Joko Widodo juga menjadi faktor daya tarik investor akan menanamkan modal investasinya ke Indonesia.

Sementara, meski pertumbuhan ekonomi China masuk ke level terendah dalam 27 tahun, yaitu 6,2% secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2019, Yudi mengatakan pertumbuhan ekonomi China secara mingguan masih sesuai ekspektasi. "Hal tersebut menunjukkan adanya sinyal positif China masih sebagai pemimpin ekonomi terbesar di Asia dan menambah daya kinerja yang positif terhadap rupiah," kata Yudi, Selasa (16/7).

Sedangkan, dollar AS masih tertekan karena pandangan Federal Reserve terhadap tingkat suku bunga tetap dovish. Sehingga rupiah berpotensi masih bisa kembali menguat setelah aksi profit taking.

Sementara, Fikri C. Permana Ekonom Pefindo mengatakan, rupiah hari ini melemah karena data realisasi anggaran penerimaan negara hanya tumbuh 7,8% atau masih di bawah target. Sementara, pos belanja negara malah tumbuh lebih tinggi sebesar 9,8%. Data ini menyebabkan realisasi defisit anggaran malah meningkat dibanding tahun lalu.

Selain itu, Fikri berpendapat terkoreksinya rupiah juga dipengaruhi adanya kekhawatiran resesi Singapura yang bisa merembet ke negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia.

Sekadar informasi, International Monetary Fund (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi 2019 untuk Singapura dari 2,3% menjadi 2% di tengah tekanan ekspor Negeri Merlion tersebut akibat perang dagang.

Yudi memproyeksikan rupiah besok berada di rentang Rp 13.870 per dollar AS hingga Rp 13.990 per dollar AS. Sedangkan, Fikri memproyeksikan rupiah besok bergerak di rentang Rp 13.975 per dollar AS hingga 14.075 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati