Rupiah Bergerak di Bawah Rp 17.000, Ini Landasan Fundamental Tetap Stabil



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (27/1/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,08% secara harian ke Rp 16.768 per dolar AS.

Sedangkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.801 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, dengan inflasi yang masih terkendali, cadangan devisa yang besar, pertumbuhan sekitar 5%, serta suku bunga kebijakan BI 4,75% yang menjaga diferensial imbal hasil terhadap aset USD, rupiah punya landasan fundamental untuk stabil. 


Baca Juga: Midi Utama (MIDI) Berencana Buka 200 Gerai Baru di 2026 Meski Penjualan Lebih Rendah

Pada saat yang sama, tekanan eksternal masih nyata karena imbal hasil US Treasury tinggi, premi risiko emerging market (EM) mudah melebar saat sentimen global berubah, dan kinerja ekspor melemah. 

Kombinasi faktor ini membuat nilai tukar wajar lebih tepat dibaca sebagai rentang, bukan angka tunggal. 

"Dengan titik transaksi terbaru di sekitar Rp 16.800 per dollar AS, kisaran yang konsisten dengan fundamental dan premi risiko saat ini berada di Rp 16.300–Rp 17.000 per dollar AS, dengan batas atas mudah tersentuh ketika pasar masuk fase risk-off dan aliran dana kembali ke aset safe haven," ujar Syafruddin kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).

Ia bilang, kurs jangka pendek sering bergerak didorong perubahan premi risiko dan ekspektasi suku bunga, sementara fundamental bekerja lebih kuat pada horizon yang lebih panjang.  

Syafruddin menambahkan penunjukan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur BI dapat mempengaruhi rupiah lewat kanal persepsi, bukan lewat kuasa individu pada keputusan harian pasar valas. 

Baca Juga: Isu Independensi Bank Indonesia dan Risiko APBN Bikin Rupiah Masih Rapuh

Pasar membaca penunjukan pejabat bank sentral sebagai sinyal, apakah BI menjaga kesinambungan kerangka kebijakan, disiplin inflasi, dan independensi kelembagaan. 

Jika pelaku pasar melihat prosesnya kredibel dan memperkuat keyakinan BI tetap fokus pada stabilitas harga serta stabilitas nilai tukar, rupiah berpeluang mendapat dukungan karena premi risiko turun. 

Namun, jika pelaku pasar meragukan independensi atau memproyeksikan kebijakan jadi kurang konsisten, rupiah berisiko melemah karena premi risiko naik dan permintaan lindung nilai meningkat. 

Literatur menunjukkan kredibilitas dan independensi bank sentral berkorelasi dengan stabilitas inflasi dan persepsi risiko kebijakan, yang kemudian ikut membentuk respons pasar terhadap kurs. 

"Dalam praktik, keputusan BI bersifat kolektif di tingkat Dewan Gubernur, jadi efek terbesar dari penunjukan biasanya muncul sebagai volatilitas jangka pendek yang akan mereda ketika BI memberi sinyal kebijakan yang tegas, konsisten, dan mudah diuji pasar," jelas Syafruddin.

Lebih lanjut Syafruddin menjelaskan, pada kuartal I-2026, rupiah bergerak di bawah pengaruh kombinasi sentimen global dan domestik yang saling menguatkan. Dari sisi global, imbal hasil US Treasury 10 tahun yang bertahan tinggi di sekitar 4,2% mendorong pengetatan kondisi keuangan internasional dan menahan arus dana ke aset berisiko. Sehingga permintaan dolar untuk lindung nilai mudah naik ketika volatilitas meningkat. 

Baca Juga: Ini Rekomendasi Saham Pendatang Baru di Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80

Pada saat yang sama, pasar menunjukkan pola risk-on yang tidak bersih dimana ekuitas global masih menguat, tetapi emas melonjak dan indeks CDS sovereign global ikut naik, yang menandakan investor tetap memasang proteksi terhadap tail-risk.

"Pola ini biasanya membuat mata uang emerging market rentan mengalami pelemahan episodik," kata Syafruddin.

Dari sisi dolar, Syafruddin menyebut pelemahan indeks dolar yang terlihat belakangan memberi ruang napas. Tetapi penguatan dollar AS terhadap yen Jepang mengisyaratkan tekanan berbasis spread yield masih bekerja. Sehingga dukungan terhadap rupiah tidak otomatis kuat. 

Dari kanal hedging, kenaikan NDF dan volatilitas menandakan biaya proteksi kurs meningkat, yang sering memperlebar tekanan rupiah meski faktor fundamental tidak berubah cepat. 

Dari sisi domestik, pasar menimbang konsistensi bauran kebijakan BI pada suku bunga 4,75% dan komitmen stabilisasi nilai tukar, sambil memantau data fundamental seperti cadangan devisa, inflasi, serta momentum ekspor yang sempat melemah. 

Pertimbangan ini membentuk premi risiko harian rupiah dan menentukan apakah pelemahan bersifat sementara atau berlanjut. 

"Perubahan suku bunga AS, harga risiko, serta keterbatasan intermediasi global dapat menyalurkan guncangan ke kurs emerging market melalui aliran portofolio dan kebutuhan lindung nilai," terang Syafruddin.

Baca Juga: Ini Rekomendasi Saham Pendatang Baru di Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80

Selanjutnya: Antam (ANTM) Buka Suara Soal Potensi Ambil Alih Tambang Agincourt

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026: 3 Ganda Indonesia ke 16 Besar, Segel 1 Tiket 8 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News