KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga kian mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS akibat kombinasi lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS) serta tingginya premi risiko energi global. Berdasarkan data
Bloomberg per Kamis (15/10/2026), rupiah di pasar spot berada di posisi Rp 17.938 per dolar AS atau melemah 0,20% (35 poin), sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan pelemahan rupiah sebesar 0,28% atau 50 poin dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.898 per dolar AS menjadi Rp 17.948 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda kembali berlanjut setelah sebelumnya sempat menguat di kisaran Rp17.500 per dolar AS.
Pembalikan arah ini dipicu oleh rilis data inflasi AS September 2026 yang naik 3,7% secara tahunan (
year on year/YoY), melampaui perkiraan pasar dan memicu ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama. Di saat bersamaan, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah menahan harga minyak mentah Brent bertengger di atas US$100 per barel, yang membengkakkan estimasi kebutuhan devisa impor nasional.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.938 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Ketiga di Asia Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai risiko rupiah menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS sudah sangat material karena jaraknya yang kian tipis dari pergerakan pasar harian, di mana rupiah sempat menyentuh posisi Rp 17.955 per dolar AS pada 15 Oktober 2026. Menurut Syafruddin, penembusan level Rp 18.000 bukan menandakan krisis ekonomi secara otomatis, melainkan batas psikologis pasar yang berpotensi diuji. Potensi risiko serius baru akan terjadi jika tekanan di pasar valuta asing mulai menular ke pasar obligasi dan meningkatkan premi risiko utang negara. "Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah level tersebut ditembus," ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (15/10/2026). Ia menjelaskan bahwa rambatan risiko patut diwaspadai apabila penembusan kurs diikuti oleh lonjakan
Credit Default Swap (CDS) 5 tahun mendekati atau melewati 100 basis poin (bps) serta kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke rentang 7,4%–7,5%. Saat ini, kondisi fundamental pasar keuangan masih relatif terjaga dengan yield SBN 10 tahun di level 7,17% dan CDS 5 tahun sebesar 92 bps. Langkah Bank Indonesia (BI) yang tetap aktif melakukan intervensi di pasar spot, offshore
non-deliverable forward (NDF),
domestic non deliverable forward (DNDF), hingga pembelian SBN di pasar sekunder dinilai krusial untuk mencegah timbulnya spiral risiko mata uang dan obligasi.
Baca Juga: Rupiah Melemah 0,27% ke Rp 17.951 per Dolar AS pada Kamis (15/10) Siang Untuk meredam volatilitas lebih lanjut, Syafruddin menambahkan bahwa rupiah membutuhkan dorongan dari pemulihan kondisi global ketimbang sekadar mengandalkan dinamika fundamental domestik. "Sentimen yang paling membantu rupiah saat ini bukan satu berita positif, tetapi kombinasi penurunan tekanan global," tutur Syafruddin. Hingga akhir tahun 2026, Syafruddin memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah masih akan volatil dengan bias melemah. Baseline proyeksi berada pada kisaran Rp 17.650 hingga Rp 18.150 per dolar AS, dengan titik tengah di kisaran Rp 17.850–Rp 17.950 per dolar AS.
Ruang penguatan menuju Rp 17.500–Rp 17.650 per dolar AS tetap terbuka bila inflasi AS melandai lebih cepat dan arus modal asing kembali masuk ke SBN. Sebaliknya, rupiah berisiko melemah di atas Rp 18.100 per dolar AS apabila pasar kembali menaikkan ekspektasi pengetatan suku bunga The Fed, harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel, serta capital outflow terus meningkat.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,26% ke Rp 17.950 per Dolar AS pada Kamis (15/10) Pagi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News