Rupiah Berpeluang Bergerak Terbatas pada Rabu (26/8), Cermati Sentimennya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (25/8), saat pasar domestik libur nasional. Sejumlah sentimen global dan domestik menjadi perhatian investor dalam mencermati arah pergerakan rupiah ke depan.

Mengutip data Bloomberg, pada Selasa (25/8/2026) rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.723 per dolar AS. Rupiah melemah tipis 0,03% dibandingkan posisi penutupan Senin (24/8) di Rp 17.721 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah berasal dari kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran.


Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin mengumumkan perluasan sanksi untuk memutus jalur ekonomi Iran dan menekan negara tersebut agar mengakhiri konflik. AS juga menegaskan bahwa negara-negara perlu memutuskan hubungan bisnis dengan Iran atau berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar.

Baca Juga: Pendapatan Emiten Milik Raffi Ahmad Semester I 2026 Turun, Harga Saham Melemah

Namun, Bessent tidak menyebut negara mana saja yang menjadi sasaran sanksi dan memberikan waktu bagi negara-negara tersebut untuk mengikuti arahan baru.

Menurut Ibrahim, langkah tersebut justru membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap ancaman gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akibat konflik.

"AS kini lebih mengandalkan tekanan ekonomi. Langkah tersebut menurut para analis telah meredakan kekhawatiran mengenai ancaman terhadap pasokan minyak Timur Tengah akibat perang," ujar Ibrahim, Selasa (25/8/2026).

Dari sisi domestik, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi perhatian. Fitch Ratings menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027 lebih realistis dibandingkan ambisi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan hingga 8% dalam jangka menengah.

Meski demikian, target pertumbuhan 6% tersebut masih berada di atas proyeksi Fitch yang memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% pada 2027.

Baca Juga: Prospek Mayapada Hospital (SRAJ) di Semester II 2026 Masih Menantang, Ini Pemicunya

Ibrahim mengatakan terdapat sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi prospek ekonomi Indonesia pada tahun depan. Risiko tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, potensi kembali meningkatnya harga minyak dunia, serta perlambatan tajam ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia.

Di sisi fiskal, pemerintah menargetkan defisit anggaran 2027 sebesar 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB). Target tersebut lebih rendah dibandingkan target defisit 2026 sebesar 2,85% dan menunjukkan upaya pemerintah menjaga defisit di bawah batas legal 3% terhadap PDB.

Namun, Fitch menilai konsolidasi fiskal berpotensi lebih sulit dipertahankan dibandingkan yang tercermin dalam target awal. 

Fitch juga menyoroti pengalaman penyusunan anggaran sebelumnya, ketika target defisit yang semula ditetapkan lebih rendah kemudian direvisi naik untuk mengakomodasi tambahan belanja.

Untuk perdagangan Rabu (26/8), investor akan mencermati sejumlah sentimen eksternal, terutama data inflasi Amerika Serikat dan pidato pertama Warsh di Jackson Hole.

"Kondisi inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi akan kebijakan The Fed yang lebih longgar," jelasnya.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (26/8) akan bergerak dalam kisaran Rp 17.730-Rp 17.750 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: