Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas Pada Jumat (19/4), Ini Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terbatas pada perdagangan Kamis (18/4). Penguatan mata uang garuda seiring koreksi dolar Amerika Serikat (AS), serta adanya potensi intervensi Bank Indonesia (BI) pekan depan.

Asal tahu saja, rupiah spot ditutup menguat 0,25% secara harian ke level Rp 16.179 per dolar AS pada Kamis (18/4). Sementara, rupiah di Jisdor BI menguat sekitar 0,38% ke level Rp 16.177 per dolar ASg sebesar 5,4% yoy dan 12,9% yoy.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mencermati, penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen risk on di pasar ekuitas dan adanya koreksi dolar AS seiring aksi ambil untung (profit taking). Rupiah juga didukung oleh ekspektasi Bank Indonesia (BI) akan mengerek suku bunga pada pertemuan pekan depan, 23- 24 April 2024.


Namun, dolar AS walau sedang berkonsolidasi dan terimbas profit taking berpotensi berbalik menguat (rebound). Investor tengah mengantisipasi data klaim pengangguran Amerika yang akhir-akhir ini sering lebih kuat dari perkiraan.

Baca Juga: Rupiah Kian Terbebani Hengkangnya Dana Asing dari Pasar Modal Indonesia

“Sehingga, rupiah pada Jumat (19/4) diperkirakan masih berpotensi menguat namun terbatas,” ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Kamis (18/4).

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengamati,  pelemahan dolar AS pada Kamis (18/4) berkaitan dengan sikap pedagang yang menilai kembali prospek suku bunga AS. Hal itu setelah komentar dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang memperkuat ekspektasi bahwa pengaturan moneter akan tetap ketat untuk jangka waktu yang lebih lama.

Pasar memperkirakan pemotongan suku bunga The Fed sebesar 44 basis poin (bps) tahun ini, jauh lebih rendah dari perkiraan awal tahun sebesar 160 bps, dengan bulan September menjadi titik awal terbaru dari siklus pelonggaran.

“Para pedagang sebelumnya memperkirakan The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada bulan Juni, namun serangkaian data termasuk indeks harga konsumen (CPI) dan penolakan dari para bankir bank sentral telah mengubah ekspektasi tersebut,” kata Ibrahim dalam riset harian, Kamis (18/4).

Dari internal, Ibrahim menjelaskan, apresiasi rupiah dipengaruhi data Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI) bulan Maret yang diperkirakan tetap kuat  seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat pada periode Ramadan.

Secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan meningkat dengan pertumbuhan sebesar 4,1% mtm lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tumbuh 1,7% mtm.  Hal tersebut,  sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat saat bulan Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional [HBKN] Idulfitri, serta program potongan harga.

Baca Juga: Berotot, Rupiah Spot Ditutup Menguat ke Rp 16.179 Per Dolar AS Pada Hari Ini (18/4)

Selain itu, kinerja penjualan eceran pada kuartal pertama 2024 diperkirakan tumbuh sebesar 3,7% yoy, lebih tinggi dari kuartal IV 2023 yang tumbuh 1,6% yoy. Peningkatan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 5,4% yoy dan 12,9% yoy.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi lanjutkan  di rentang  Rp 16.150 – Rp 16.200 pada perdagangan Jumat (19/4).  Sedangkan, Lukman memprediksi rupiah bakal menguat terbatas dalam rentang Rp 16.100 – Rp16.250 per dolar AS di perdagangan Jumat (19/4).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi