Rupiah Berpeluang Sentuh Rp 18.000 di Selasa (4/8), Pasar Pantau Data Ekonomi AS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 25 poin atau melemah 0,14% di level Rp 17.997 per dolar AS pada Senin (3/8/2026).

Penguatan rupiah ditopang oleh sentimen global yang membaik, meski pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang ke depan.

Pengamat ekonomi, mata uang & komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan, pasar masih akan mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), serta berbagai sentimen global yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS.


Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat, mulai dari Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), ADP Employment Report, hingga nonfarm payrolls (NFP) yang akan dirilis pekan ini.

Baca Juga: Risiko Gagal Bayar, Pefindo Pangkas Rating ADHI & Masukkan CreditWatch Negatif

Data tersebut menjadi indikator penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS karena meningkatkan peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama, sementara data yang melemah dapat membuka ruang bagi pelemahan dolar AS.

Dari sejumlah data tersebut, laporan NFP menjadi salah satu perhatian utama karena memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan dan berpotensi memicu volatilitas pada pasar keuangan global.

Dari sisi eksternal, penguatan rupiah juga didukung oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pembatalan rencana serangan militer besar terhadap Iran dan membuka peluang negosiasi.

Perkembangan tersebut mendorong penurunan harga minyak dunia lebih dari US$5 per barel, sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global. Kondisi tersebut turut menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara dari dalam negeri, sentimen positif berasal dari membaiknya aktivitas manufaktur Indonesia. Berdasarkan laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 dengan mencapai level 50,2, naik dari 46,9 pada Juni 2026.

Perbaikan tersebut menunjukkan aktivitas industri mulai pulih setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Selain itu, Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14% secara bulanan pada Juli 2026 dengan inflasi tahunan sebesar 2,88%, menunjukkan tekanan harga domestik masih relatif terkendali. Kondisi ini turut memberikan sentimen positif terhadap stabilitas ekonomi domestik dan mendukung pergerakan rupiah.

Baca Juga: Ditopang Refinancing, Pefindo sebut Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Bergairah

Pergerakan rupiah menurut Ibrahim masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (4/8/2026), dengan kisaran Rp 17.990 hingga Rp 18.040 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: