Rupiah Berpotensi Bergerak Terbatas pada Kamis (3/9/2026) Cermati Sentimennya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berpotensi bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (3/9). Sentimen eksternal berupa meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) jadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah.

Melansir Bloomberg, Rabu (2/9) rupiah spot ditutup di level Rp 17.763 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,11% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.744 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 17.770 per dolar AS atau melemah 0,24% secara harian.


Baca Juga: Penjualan Alat Berat Diproyeksi Masih Tumbuh, Begini Prospek UNTR, KOBX dan INTA

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, dari sisi eksternal, sentimen datang dari retorika keras Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi dalam Simposium Jackson Hole kembali menghidupkan spekulasi kenaikan suku bunga AS.

Hal tersebut tercermin dari CME FedWatch Tool yang menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15-16 September mencapai sekitar 65%. Angka tersebut meningkat dari sekitar 40% pada sepekan sebelumnya.

“Gubernur Fed Michael Barr mengatakan dia mendukung suku bunga yang stabil jika yakin inflasi sedang melambat tetapi memperingatkan bahwa jika inflasi tidak segera melambat, saatnya untuk menaikkan suku bunga,” ujar Ibrahim, Rabu (2/9/2026).

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti perkembangan inflasi yang kembali meningkat pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi umum sebesar 0,21% secara bulanan (month to month/MtM), berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026.

Secara tahunan (year on year/YoY), inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19%, meningkat dari 2,88% pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Reksadana Pasar Uang Masih Unggul, Pendapatan Tetap Berpeluang Menguat

Menurut Ibrahim, kenaikan harga komoditas pangan menjadi perhatian karena tekanan tersebut berpotensi masih menghantui daya beli masyarakat ke depan. BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi paling tinggi terhadap kenaikan inflasi Agustus 2026.

Di tengah kondisi tersebut, prospek rupiah juga akan dipengaruhi oleh arah kebijakan ekonomi domestik. Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,2%-6%.

Selain itu, inflasi diproyeksikan tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, dengan neraca pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat.

Mempertimbangkan berbagai kondisi tersebut, untuk perdagangan Kamis (3/9), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.760-Rp 17.800 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News