KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keluarnya sejumlah saham dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Global Standard Indexes tanpa adanya pengganti baru dinilai menjadi sentimen negatif besar bagi pasar keuangan domestik. Kondisi ini dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah melalui derasnya arus keluar modal asing atau capital
outflow. Mengutip
Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.476 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (13/4). Ini membuat rupiah menguat 0,3% dibanding penutupan hari sebelumnya.
Kemarin, Selasa (12/5) tercatat rupiah anjlok ke level terlemah sepanjang masa, yakni Rp 17.529 per dolar AS. Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan keputusan MSCI tersebut tidak hanya berdampak secara psikologis, tetapi juga memicu tekanan mekanis terhadap pasar modal dan rupiah.
Baca Juga: Timah (TINS) Berpeluang Kembali Catat Kinerja Positif, Cermati Rekomendasi Analis Menurut dia, keluarnya saham-saham dari indeks MSCI memaksa manajer investasi global yang mengelola dana berbasis indeks seperti ETF dan reksadana indeks untuk menjual saham-saham tersebut demi menyesuaikan portofolio mereka. Ketika saham-saham didepak dari indeks MSCI, manajer investasi global yang mengelola dana index-tracking (seperti ETF atau reksa dana global) wajib menjual saham-saham tersebut untuk menyesuaikan dengan portofolio indeks yang baru, maka asing menjual saham di BEI dan kemudian menerima rupiah. "Namun rupiah tersebut kemudian ditukarkan kembali ke dolar AS untuk dibawa pulang atau dipindahkan ke pasar negara lain, seperti India atau Vietnam yang bobotnya mungkin naik," ujar Rahma kepada Kontan, Selasa (13/5/2026). Ia menjelaskan, kondisi tersebut menciptakan lonjakan permintaan dolar AS secara mendadak di pasar spot, sehingga memberi tekanan tambahan terhadap rupiah yang saat ini sudah berada di level lemah. Rahma juga menyoroti potensi
contagion effect atau efek penularan ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Menurut dia, gejolak di pasar saham dapat memicu kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia secara keseluruhan. “Jika investor asing juga mulai melepas kepemilikan SBN mereka, karena merasa berisiko investasi di Indonesia meningkat, tekanan terhadap rupiah akan berlipat ganda karena pasar obligasi kita memiliki nilai kapitalisasi yang juga sangat besar,” katanya.
Baca Juga: Sejumlah Emiten Ini Gencar Lakukan Ekspansi, Cek Prospek dan Rekomendasi Sahamnya Ia menilai absennya saham baru yang masuk ke MSCI Global Standard Indexes juga dapat dibaca pasar sebagai sinyal stagnasi kualitas emiten besar Indonesia di mata investor global. Pasar, lanjut Rahma, menangkap sinyal bahwa kondisi ekonomi domestik belum cukup atraktif untuk melahirkan emiten baru yang memenuhi standar indeks global. "Sentimen negatif terhadap 'prospek rezim' ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar angka teknis, karena menyangkut kepercayaan jangka panjang," bubuhnya. Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah dinilai turut memperberat tugas Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar. BI diperkirakan harus lebih agresif melakukan intervensi di pasar spot maupun
domestic non deliverable forward (DNDF). “Jika cadangan devisa terus tergerus hanya untuk menahan sentimen MSCI ini, pasar bisa semakin spekulatif dan memunculkan kekhawatiran bahwa ruang intervensi BI semakin terbatas,” jelasnya. Rahma menilai tekanan terhadap rupiah masih sangat berpotensi berlanjut apabila pemerintah dan otoritas terkait tidak segera memberikan respons kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan investor.
Baca Juga: Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 Dinilai Sinyal Positif Emiten Konsumer “Jika tidak ada narasi tandingan yang solid dan perbaikan kebijakan yang nyata, pelemahan rupiah pada semester II bisa semakin terakselerasi akibat hilangnya minat investor asing,” imbuhnya. Menurut Rahma, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia tengah menghadapi unique risk yang tidak dialami sejumlah negara tetangga, terutama negara yang justru mengalami peningkatan bobot dalam indeks global. Terakhir Rahma berpandangan, berdasarkan data dan analisis fundamental saat ini, probabilitas rupiah menembus level Rp 18.000 hingga Rp 20.000 di semester II-2026 berpotensi terbuka. "BI sudah habis-habisan intervensi, namun jika tidak didukung dengan perbaikan dari sisi fiskal, sampai kapan BI kuat untuk intervensi? Peluang rupiah kembali ke level di bawah Rp 17.000 pada akhir tahun, saya kira tidak mungkin," tandasnya. Perlu diketahui, pengelola indeks saham global MSCI telah merilis hasil evaluasi terbarunya untuk periode Mei 2026, yang berdampak pada belasan saham tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga: OJK Mulai Fit and Proper Test Calon Direksi BEI, Pengumuman Juni 2026 Dalam MSCI Global Standard Indexes, tidak ada saham Indonesia yang masuk, sementara enam saham dikeluarkan dari indeks. Keenam saham tersebut adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Sementara dalam MSCI Global Small Cap Indexes, terdapat satu saham Indonesia yang masuk dan 13 saham dihapus. Saham yang masuk adalah AMRT, yang sebelumnya berada di MSCI Standard Index. Ada pun 13 saham yang dikeluarkan dari MSCI Indonesia Small Cap Indexes adalah: PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Kemudian saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News