KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah diperkirakan masih akan melanjutkan tren pelemahan pada awal pekan depan akibat tertekan sentimen eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik global. Sebelumnya, pada Kamis (2/4) sebelum libur panjang, kurs rupiah di pasar spot melemah 0,11% menjadi Rp 17.002 per dolar AS. Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor pun tercatat melemah 0,08% menjadi Rp 17.015 per dolar AS, yang merupakan posisi terlemah.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, pelemahan rupiah kali ini sejalan dengan pelemahan mata uang regional hingga global yang kompak tertekan seiring penguatan tajam dolar AS yang didorong oleh meningkatnya sentimen
risk off di pasar keuangan.
Baca Juga: Hingga 31 Maret 2026, OJK Jatuhkan Denda Rp 96,33 Miliar kepada Pelanggar Pasar Modal Menurutnya, sentimen utama datang dari perkembangan geopolitik, khususnya pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberi sinyal eskalasi konflik dengan Iran dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik di Timur Tengah akan semakin meluas dan berlangsung lebih agresif dari perkiraan sebelumnya. Ini yang ditafsir pelaku pasar sehingga beralih ke aset
safe haven seperti dolar AS. “Trump berharap untuk memenangkan perang terhadap Iran dalam beberapa minggu, dan bukannya mengakhiri perang secara damai seperti yang ditafsir sebelumnya,”ujar Lukman saat dihubungi Kontan, Kamis (2/4/2026). Ia menambahkan, kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah kembali meningkat, meskipun sebelumnya sempat menguat. Penguatan dolar AS yang didorong oleh lonjakan permintaan aset aman menjadi faktor dominan yang menekan mata uang
emerging market, termasuk rupiah.
Baca Juga: Dian Swastatika (DSSA) Siap Merealisasikan Stock Split, Simak Jadwalnya Untuk sentimen jangka pendek, pada awal pekan ini Senin (6/4/2026), Lukman melihat pasar masih akan mencermati dua faktor utama, yakni perkembangan konflik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah karena berdampak pada neraca perdagangan dan inflasi domestik. Di sisi lain, rilis data ekonomi seperti
non-farm payroll (NFP) AS memang tetap diperhatikan pasar. Namun, menurutnya, pengaruh data ekonomi cenderung hanya bersifat sementara dibandingkan sentimen geopolitik yang saat ini lebih dominan. Sehingga pada Senin (6/4/2026), Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan. Ia memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada dalam kisaran Rp 16.950 hingga Rp 17.050 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News