Rupiah Berpotensi Melemah Lagi Senin (26/10), Dibayangi Harga Minyak dan Arus Asing



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan awal pekan, disokong sentimen kenaikan harga minyak mentah dunia dan arus keluar dana asing dari pasar saham yang belum mereda.

Melansir Bloomberg pada Jumat (23/10/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11% secara harian menjadi Rp 18.080 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,29% dari posisi Rp 18.027 per dolar AS pada Jumat (16/10/2026) pekan lalu.

Kurs rupiah Jisdor hari Jumat juga melemah 0,12% secara harian menjadi Rp 18.069 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor melemah 0,9% dari posisi Rp 18.052 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.


Baca Juga: Sarana Menara (TOWR) Bakal Terima Dividen Interim Rp 176 Miliar dari Protelindo

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada awal pekan ini. 

“Sentimen umum pada hari Jumat adalah kenaikan harga minyak mentah dunia dan outflow dana asing di pasar ekuitas yang masih berlanjut,” ujar Lukman kepada Kontan, Minggu (25/10/2026).

Sementara itu, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi menyusul serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Ia menyebut Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, yang berada di kawasan Teluk dekat Bahrain, di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. 

Eskalasi konflik tersebut menambah ketidakpastian terhadap pasokan minyak dunia. Jika gangguan pasokan berlanjut dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap kebutuhan impor energi serta stabilitas rupiah berpotensi berlanjut. Memang, harga minyak mentah global baik WTI maupun Brent beberapa hari terakhir sudah parkir di atas level US$ 100 per barel.

Dari sisi domestik, Lukman bilang tidak terdapat rilis data maupun agenda ekonomi penting yang dijadwalkan pada awal pekan depan. Sementara itu, pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat, mulai dari rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), hingga pertemuan bank sentral AS atau The Fed dalam rapat FOMC.

Menurut Lukman, investor cenderung berhati-hati menjelang rilis data ekonomi penting dan pertemuan The Fed. Sikap tersebut, ditambah dengan berlanjutnya arus keluar modal asing dan kenaikan harga minyak mentah dunia, berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Divestasi 50,91 Juta Saham Anak Usaha, Ini Tujuannya

Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 18.000-Rp 18.150 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026). Ibrahim pun memprediksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.080-Rp 18.130 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News