Rupiah Berpotensi Melemah pada Bulan Mei, Ini Rentang Pergerakannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek nilai tukar rupiah pada Mei 2026 diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah di awal bulan. 

Berdasarkan data Bloomberg, pada Rabu (29/4), kurs rupiah di pasar spot melemah 0,48% menjadi Rp 17.326 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan berlanjut pada penutupan perdagangan Kamis (30/4) dengan rupiah kembali terdepresiasi 0,12% ke Rp 17.346 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, dalam skenario dasar, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.200 – Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).


Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh tingginya harga minyak serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

"Pasar membaca keputusan menahan suku bunga sebagai sinyal kebijakan yang relatif ketat, apalagi dengan perbedaan pandangan yang makin tajam di internal pembuat kebijakan," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (30/4/2026). 

Baca Juga: IHSG Ambruk 2,03% ke 6.956, Top Losers LQ45:DSSA, BRPT dan MAPI, Kamis (30/4)

Ia menilai, ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek masih terbatas. 

Rupiah baru berpotensi menguat apabila harga minyak mentah turun di bawah US$ 100 per barel, situasi geopolitik di kawasan Selat Hormuz membaik, serta ekspektasi penurunan suku bunga AS kembali menguat pada paruh kedua tahun ini.

Namun, dalam skenario terburuk, rupiah masih berisiko melemah lebih dalam. Jika harga minyak mentah jenis Brent crude oil bertahan di atas US$ 110 per barel, dolar AS tetap kuat, dan arus modal keluar berlanjut, rupiah berpotensi bergerak ke kisaran Rp 17.500–Rp 17.800 per dolar AS.

Bahkan, jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat dan mendorong lonjakan harga minyak yang lebih ekstrem, pelemahan rupiah ke atas Rp 18.000 per dolar AS tidak sepenuhnya dapat dikesampingkan, meski bukan skenario utama.

Josua menambahkan, sejumlah katalis berpotensi menopang rupiah, antara lain meredanya konflik geopolitik, penurunan harga minyak, kejelasan arah penurunan suku bunga AS, serta masuknya aliran dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Selain itu, komunikasi fiskal pemerintah yang kredibel juga dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor.

Dari sisi kebijakan, intervensi Bank Indonesia dinilai cukup efektif dalam meredam volatilitas, meski belum mampu membalikkan arah pelemahan rupiah.

"Intervensi lebih berfungsi menahan gejolak dan mencegah kepanikan, bukan untuk mendorong penguatan cepat ketika tekanan fundamental masih besar," kata Josua.

Bank Indonesia diketahui melakukan intervensi melalui pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot dan domestic NDF (DNDF), pembelian SBN di pasar sekunder, serta penguatan daya tarik instrumen moneter berbasis rupiah. 

Cadangan devisa Indonesia juga masih relatif solid di kisaran US$ 148,2 miliar per akhir Maret 2026.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menilai tekanan terhadap rupiah masih akan signifikan, terutama jika konflik geopolitik di Timur Tengah berlanjut.

Namun, ia melihat langkah agresif Bank Indonesia dalam operasi moneter untuk menyerap likuiditas dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam jangka pendek, David memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.250–Rp 17.500 per dolar AS.

Di luar faktor global, ia menambahkan, penguatan kondisi fiskal pemerintah, baik dari peningkatan penerimaan akibat windfall komoditas maupun langkah penghematan anggaran dapat menjadi faktor penting untuk memulihkan sentimen investor asing dan menopang rupiah.

Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,12% ke Rp 17.346 Per Dolar AS pada Kamis (30/4)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News