Rupiah Berpotensi Melemah Rabu (16/9), Pasar Menanti Keputusan The Fed



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (16/9/2026), seiring pasar mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed dan perkembangan harga minyak mentah dunia yang masih tinggi.

Melansir data Bloomberg pada Selasa (15/9/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 25 poin atau 0,14% ke level Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.687 per dolar AS pada Selasa (15/9/2026), atau melemah 0,29% dibandingkan hari sebelumnya, yaitu Rp 17.635 per dolar AS.


Pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa (15/9/2026) utamanya digerakkan oleh kombinasi penguatan indeks dolar AS, kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus area 5%, serta tingginya harga minyak mentah Brent di sekitar US$ 107 per barel. Selain itu, sikap defensif investor menjelang pengumuman suku bunga The Fed turut menaikkan premi risiko atas aset negara berkembang.

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah Rabu (16/9), Dibayangi Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin menjelaskan bahwa sentimen pergerakan rupiah pada Rabu (16/9) akan terutama ditentukan oleh keputusan The Fed dan nada komunikasi pasca-rapat. Pasar saat ini menilai peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin sangat tinggi, di tengah indeks dolar yang mendekati level tertinggi dua pekan.

Tekanan bagi Indonesia makin diperberat oleh posisi sebagai pengimpor bersih minyak (net oil importer). Syafruddin menyoroti bahwa harga minyak Brent yang bertahan tinggi menaikkan kebutuhan dolar untuk impor energi, memicu tekanan pada transaksi berjalan, serta meningkatkan risiko inflasi.

Dari dalam negeri, penyangga ekonomi seperti cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar, BI-Rate di level 5,75%, dan inflasi sebesar 3,19% masih membantu menahan tekanan. Namun, pergerakan arus modal asing tetap menjadi variabel penting yang harus diwaspadai pasar.

Baca Juga: Demutualisasi BEI Terus Berlanjut, Porsi Kepemilikan Danantara Jadi Sorotan

"Arus nonresiden tetap perlu dicermati setelah transaksi SRBI mencatat net sell Rp2,96 triliun pada 7–10 September," ujar Syafruddin kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Untuk perdagangan Rabu (16/9), Syafruddin memproyeksikan kisaran dasar rupiah berada di Rp 17.640 hingga Rp 17.760 per dolar AS dengan bias cenderung melemah.

Jika keputusan The Fed lebih hawkish atau harga minyak melonjak mendekati US$ 110 per barel, rupiah berisiko menguji level Rp 17.780 hingga Rp 17.820 per dolar AS.

"Karena itu, arah rupiah besok akan bergantung pada apakah shock Fed dan minyak lebih kuat daripada kapasitas stabilisasi Bank Indonesia," tutup Syafruddin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News