Rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Senin (13/9)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah berhasil membukukan kinerja yang apik dalam sepekan kemarin. Tercatat, dalam seminggu terakhir rupiah menguat 0,42% di pasar spot setelah ditutup di level Rp 14.202 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Sementara di kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga mencatatkan kinerja yang serupa. Mata uang Garuda ini ditutup di level Rp 14.225 per dolar AS atau menguat 0,25% dalam seminggu.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri menjelaskan, dalam sepekan terakhir rupiah menguat lantaran kondisi domestik yang semakin kondusif. Hal ini didukung oleh laju Covid-19 yang turun dan data ekonomi seperti cadangan devisa yang masih baik. Sementara dari eksternal, tekanan tapering sudah mulai menurun seiring data nonfarm payroll (NFP) AS yang lebih rendah dari perkiraan.


Baca Juga: Sepekan menguat 0,42%, rupiah jadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia

“Ini jadi bekal yang baik karena volatilitas rupiah dalam jangka pendek lebih rendah. Dengan Covid-19 yang makin terkendali, PPKM berpotensi makin longgar dan membuat sektor riil dapat kembali pulih dan meningkatkan ekspektasi pelaku pasar,” kata Reny kepada Kontan.co.id, Jumat (10/9).

Apalagi, pada Senin (13/9), Reny menyebut data neraca perdagangan Indonesia untuk Agustus yang akan kembali surplus turut menjadi sentimen positif. Walaupun dari eksternal, pelaku pasar akan menantikan rilis data inflasi AS untuk melihat ke mana arah kebijakan tapering The Fed. 

Walau begitu, Reny meyakini rupiah masih punya peluang untuk menguat walaupun cenderung terbatas. Proyeksi dia, rupiah akan berada pada kisaran Rp 14.200 per dolar AS-Rp 14.298 per dolar AS pada perdagangan besok.

Baca Juga: Rupiah berpeluang menguat terbatas pada Senin (13/9), ini faktor pendorongnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati