Rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Senin (24/8), berikut faktor pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan mengawali perdagangan pekan ini dengan kinerja positif. Asal tahu saja, sepanjang pekan lalu, rupiah menguat 0,15% setelah pada Rabu (19/8) ditutup di level Rp 14.773 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, rupiah di kurs Bank Indonesia (BI) juga berhasil menorehkan kinerja positif pada sepekan lalu. Rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,88% setelah berada di level Rp 14.789 per dolar AS.

Baca Juga: Ini faktor pendorong rupiah menguat 0,15% dalam sepekan


Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan, rupiah berpeluang mengalami penguatan pada Senin (24/8). Dia menyebut, sentimen risk-on akan akan terjadi pada perdagangan hari ini seiring dengan data-data ekonomi di beberapa negara mencatatkan hasil yang cukup baik.

“Data PMI di zona Euro dirilis lebih rendah dari perkiraan, baik sektor jasa, maupun manufaktur. Namun, kedua PMI tersebut masih di atas angka 50, artinya masih ekspansi. Sementara di Inggris, kedua PMI tersebut dirilis lebih baik dari perkiraan,” kata dia kepada Kontan.co.id, Jumat (21/8).

Lebih lanjut, Alwi bilang, jika di AS data PMI juga menunjukkan angka pertumbuhan, tidak menutup kemungkinan aset berisiko akan terangkat. Tentu hal ini bisa menjadi sentimen positif buat rupiah.

Sementara itu, analis HFX International Ady Phangestu menyebut, sentimen eksternal akan menjadi sentimen utama penggerak rupiah. Menurutnya, kelanjutan mengenai paket stimulus bantuan pandemi di AS yang masih jadi pembahasan DPR AS akan punya pengaruh.

Baca Juga: Ini sentimen yang topang pergerakan rupiah di pekan ini

“Rupiah punya kecenderungan menguat, namun jika paket stimulus AS tersebut disepakati dan cair bisa membuat rupiah melemah,” jelas Ady.

Dia pun memperkirakan, rupiah akan diperdagangkan di rentang Rp 14.700 - Rp 14.900 per dolar AS pada awal pekan.

Sementara hitungan Alwi, nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran Rp 14.650 - Rp 14.830 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi