Rupiah Berpotensi Terkoreksi Kamis (6/8), Ini Proyeksi Pergerakannya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026), didukung pelemahan indeks dolar AS serta sentimen positif dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,52% atau naik 94 poin ke posisi Rp 17.933 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data Trading Economics, rupiah berada di level Rp 17.919,6 per dolar AS, menguat 0,28%. Adapun mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda menguat 0,55% menjadi Rp 17.937 per dolar AS, dari posisi sehari sebelumnya di Rp 18.037 per dolar AS.


Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah pada perdagangan Rabu didorong oleh pelemahan indeks dolar AS yang memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.

Pasar juga merespons positif pernyataan pemerintah Qatar pada Selasa (4/8/2026) yang menyebut para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Perkembangan tersebut turut mendorong harga minyak mentah Brent turun hingga ditutup di bawah level US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli. Penurunan harga minyak terjadi meski Teheran membantah klaim Presiden AS Donald Trump mengenai pembicaraan negosiasi yang tengah berlangsung.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal BUMI, PWON, PGAS untuk Perdagangan Kamis (6/8)

Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS

Selain perkembangan geopolitik, perhatian pelaku pasar global kini tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Investor menantikan rilis data perubahan ketenagakerjaan ADP serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pada Jumat (7/8/2026).

Proyeksi penambahan tenaga kerja sektor swasta versi ADP pada Juli diperkirakan mencapai 70.000 pekerjaan, lebih rendah dibandingkan 98.000 pekerjaan pada Juni.

Perlambatan pertumbuhan lapangan kerja tersebut dinilai berpotensi mengurangi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lampaui Ekspektasi

Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari data ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY).

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.576,2 triliun.

Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73%, sementara secara kumulatif pada semester I-2026 mencatat pertumbuhan 5,45%.

Capaian tersebut melampaui proyeksi konsensus ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran 4,8% hingga 4,9%.

Di tengah kondisi pengetatan kebijakan moneter global dan ketidakpastian fiskal internasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih menunjukkan daya tahan yang solid.

Baca Juga: Distribusi Voucher (DIVA) Mulai Alihkan Saham Buyback, Harga Saham Melejit

Inflasi Tetap Terkendali

Selain pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari ekspektasi, inflasi domestik juga tetap terkendali.

BPS mencatat terjadi deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026, sementara inflasi tahunan berada di level 2,88%.

Penurunan harga pangan dinilai mampu membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan pendidikan pada awal tahun ajaran baru.

Proyeksi Rupiah

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (6/8/2026) masih akan bergerak fluktuatif.

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 17.930 hingga Rp 17.980 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News