Rupiah Berpotensi Tertekan pada Perdagangan Jumat (9/10), Dibayangi Sentimen Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kombinasi tekanan eksternal dan lonjakan harga komoditas global membayangi laju pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang akhir pekan.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (8/10/2026), kurs rupiah spot ditutup melemah 28 poin atau 0,16% ke level Rp 17.915 per dolar AS, sejalan dengan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia yang juga terdepresiasi sebesar Rp 10 atau melemah 0,06% menjadi Rp 17.890 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan pelemahan mata uang Garuda pada perdagangan hari ini, Kamis (8/10/2026), merupakan hasil gabungan dari kejutan (shock) global serta tingginya kebutuhan lindung nilai domestik. Meskipun Bank Indonesia (BI) telah berupaya melakukan intervensi spot dan DNDF, lonjakan imbal hasil US Treasury (UST) 10 tahun dan meroketnya harga minyak Brent ke US$ 104 per barel membuat tekanan eksternal tetap dominan membatasi ruang apresiasi rupiah.


Baca Juga: IHSG Anjlok 1,88% ke 6.031 pada Kamis (8/10/2026), CUAN, AMMN, EMTK Top Losers LQ45

Untuk perdagangan Jumat (9/10/2026), Syafruddin menilai pergerakan mata uang domestik diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat dari luar negeri.

"Besok Jumat, tekanan rupiah masih akan ditentukan terutama oleh tiga kanal global: yield UST yang bertahan sangat tinggi, dolar AS yang tetap kuat, dan harga minyak yang kembali menembus sekitar US$104 per barel akibat risiko geopolitik," ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).

Tingginya imbal hasil tersebut dinilai mampu mengerek tingkat pengembalian (return) aset dolar AS sekaligus memperburuk persepsi inflasi, sehingga investor di pasar negara berkembang (emerging markets) cenderung akan mengambil langkah yang jauh lebih selektif.

Sentimen kewaspadaan pasar ini juga dipengaruhi oleh rilis risalah FOMC yang mengindikasikan bahwa The Fed belum sepenuhnya menutup peluang pengetatan kebijakan tambahan pada tahun ini, kendati ekspektasi jeda suku bunga lebih condong ke pertemuan Oktober.

Di kawasan Asia, para investor akan sibuk mencerna sejumlah sentimen penting mulai dari klaim pengangguran AS, pernyataan para pejabat The Fed, pergerakan UST pasca-lelang obligasi 30 tahun, hingga dinamika harga minyak mentah yang terus memanas.

Baca Juga: IHSG Turun 0,80% ke 6.097 Sesi I, Top Losers LQ45: GOTO, CUAN, WIFI, Kamis (8/10)

"Dari domestik, fokus tetap pada intervensi BI, kebutuhan valas korporasi, arus portofolio, dan suplai dolar eksportir," imbuh Syafruddin.

Ia menegaskan bahwa selama yield UST 10 tahun bertahan di kisaran 5,3% dan indeks dolar AS (DXY) kokoh di atas level 102, maka bias pergerakan rupiah dipastikan akan tetap berada di jalur defensif karena membutuhkan koreksi simultan dari kedua faktor tersebut untuk bisa menguat.

Mencermati tingginya volatilitas pasar dan sensitivitas geopolitik saat ini, Syafruddin memproyeksikan kisaran dasar pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (9/10/2026) akan bertengger di rentang Rp 17.850 - Rp 18.000 per dolar AS.

Ia menetapkan area Rp 17.850 - Rp 17.875 sebagai level support awal, sementara area Rp 17.950 - Rp 18.000 akan menjadi titik resistance psikologis yang berpotensi memicu respons stabilisasi lebih kuat.

Namun, Syafruddin mengingatkan bahwa jika yield UST kembali melesat menembus 5,35% bersamaan dengan reli harga minyak dan penguatan indeks dolar, maka mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp 18.000 dan bergerak menuju level pelemahan lanjutan di Rp 18.050 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News