KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak di bawah tekanan pada perdagangan awal pekan ini. Ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat (AS), tingginya harga minyak dunia, hingga tekanan arus modal asing menjadi sejumlah sentimen yang membayangi pergerakan mata uang Garuda. Melansir
Bloomberg Jumat (30/10/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,06% secara harian ke level Rp 18.147 per dolar AS.
Pelemahan juga terjadi pada kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Rupiah Jisdor tercatat turun 0,05% secara harian menjadi Rp 18.138 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 18.150 Per Dolar AS Hari Ini (2/11) Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman, mengatakan tekanan terhadap rupiah sepanjang pekan kemarin mencerminkan kombinasi risiko global dan kerentanan kepercayaan investor terhadap kondisi domestik. Dari sisi eksternal, ketidakpastian arah suku bunga AS dan tingginya harga minyak dunia menekan rupiah melalui dua jalur.
Pertama, mendorong perpindahan investasi ke aset yang dinilai lebih aman.
Kedua, meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi. Sementara dari domestik, tekanan jual bersih investor asing serta lemahnya pasar saham turut membatasi ruang penguatan rupiah. Menurut Rizal, pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang belum diikuti penguatan rupiah secara berkelanjutan mengindikasikan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda mencerminkan besarnya premi risiko Indonesia di mata investor.
Baca Juga: Rupiah Masih Dibayangi Tekanan, Simak Proyeksinya untuk Senin (2/11) Oleh karena itu, upaya stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia (BI) perlu didukung oleh kredibilitas kebijakan fiskal dan perbaikan tata kelola pasar agar kepercayaan investor dapat pulih. Memasuki awal pekan ini, Rizal memperkirakan rupiah masih cenderung tertekan. Pada perdagangan Senin-Selasa (2-3/11/2026), rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 18.100-Rp 18.250 per dolar AS. "Inflasi Oktober, arah harga minyak, dan arus modal asing menjadi penentu," ujar Rizal kepada Kontan, Minggu (1/11/2026). Risiko tekanan lanjutan terhadap rupiah juga perlu diwaspadai apabila harga minyak bertahan tinggi. Pasalnya, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Di saat bersamaan, pelemahan rupiah berpotensi memperbesar biaya impor dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi domestik. Di sisi lain, intervensi BI dinilai dapat membantu meredam volatilitas rupiah. Meski demikian, penguatan yang berkelanjutan tetap membutuhkan perbaikan pasokan devisa dan pemulihan kepercayaan investor.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 18.300 Per Dolar AS Sepekan ke Depan Terakhir, Yusuf mewanti-wanti jika rupiah menembus resistance Rp 18.250 secara berkelanjutan, risiko pelemahan lanjutan menuju Rp 18.300 per dolar AS akan terbuka. Sebaliknya, jika rupiah menguat hingga menembus level Rp 18.100 per dolar AS, mata uang Garuda berpeluang melanjutkan penguatan menuju Rp 18.050 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News