Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Risiko Defisit Transaksi Berjalan Mengintai



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Tekanan eksternal kian membayangi perekonomian Indonesia. Nilai tukar rupiah terus melemah dan mencetak rekor terburuk di pasar spot, seiring meningkatnya risiko pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan sentimen investor yang masih rapuh.

Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah 0,05% ke level Rp 16.950 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini menjadi penutupan terlemah rupiah di pasar spot sepanjang sejarah.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah proyeksi pelebaran CAD tahun ini. Bank Indonesia (BI) memperkirakan CAD 2026 berada di kisaran 0,2% hingga 1% dari produk domestik bruto (PDB).


Angka tersebut lebih lebar dibandingkan proyeksi 2025 yang berada pada rentang surplus 0,1% hingga defisit 0,7% dari PDB.

Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terendah, Pasar Khawatir Independensi Bank Indonesia

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari sentimen pasar yang masih berhati-hati. Salah satu faktor yang disorot investor adalah isu independensi Bank Indonesia.

“Pelemahan rupiah juga dipengaruhi keraguan investor terhadap independensi BI, terutama jika Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono nantinya menjabat sebagai Deputi Gubernur BI,” ujar Bhima.

Dari sisi eksternal, Bhima melihat risiko pelebaran CAD makin besar seiring tren pelemahan harga komoditas unggulan ekspor Indonesia. Menurut dia, meskipun konflik geopolitik global masih berlangsung, harga batubara, gas, dan nikel diproyeksikan cenderung melambat sepanjang tahun ini.

Tekanan lain datang dari meningkatnya pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri. Dalam kondisi rupiah melemah, beban utang pemerintah pun berpotensi membengkak.

Bhima mencatat, dengan proyeksi penerbitan utang neto sekitar Rp 830 triliun, pelemahan rupiah bisa mendorong kebutuhan pembiayaan meningkat menjadi Rp 880 triliun hingga Rp 900 triliun.

Ia memperkirakan CAD tahun ini berada di kisaran 0,6% dari PDB. “Ekonomi Indonesia semakin rentan terhadap tekanan eksternal,” tegas Bhima.

Baca Juga: Rupiah Tersungkur, Berdampak ke Defisit Transaksi Berjalan?

Di sisi lain, pemerintah tetap menyampaikan pandangan optimistis. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah masih dalam batas wajar, yakni sekitar 2%–3%, sehingga dampaknya terhadap perekonomian dinilai terbatas.

“Stabilitas nilai tukar sangat bergantung pada fundamental ekonomi. Selama fundamental membaik dan aktivitas ekonomi domestik meningkat, kepercayaan investor akan tetap terjaga,” kata Purbaya.

Ia menunjuk kinerja pasar modal sebagai indikator kepercayaan investor. Menurutnya, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan masuknya arus dana, baik dari investor domestik maupun asing.

Dari sisi pasokan devisa, Purbaya menegaskan tidak ada indikasi kekurangan dolar AS di pasar. Karena itu, ia menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang justru terus membaik.

“Kalau ekonomi dijaga dan diperbaiki ke depan, rupiah akan cenderung menguat. Enggak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini,” ujarnya.

Baca Juga: Pencalonan Keponakan Presiden Prabowo ke BI, Rupiah Cetak Rekor Terendah

Pemerintah, lanjut Purbaya, terus memperkuat koordinasi kebijakan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Dengan dukungan DPR, ia optimistis sinergi kebijakan tersebut dapat mendorong mesin ekonomi bergerak lebih cepat dan menjaga stabilitas ke depan.

Selanjutnya: IHSG Melemah ke 9.085,3 di Pagi Ini (21/1), Top Losers LQ45: UNTR, ASII, ADMR

Menarik Dibaca: Detail Kamera HP Oppo 2 Jutaan: Mana yang Paling Cocok untuk Anda?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News