Rupiah dalam tren menguat, ekonom Core revisi proyeksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia lebih optimistis dalam memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun ini. Karena itu, ekonom Core merevisi proyeksi mereka terhadap proyeksi rupiah tahun ini.

Akhir tahun lalu, Core memproyeksi nilai tukar rupiah masih akan cenderung melemah dan bergerak di sekitar level Rp 15.200 per dollar AS pada 20919. Namun, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah merevisi proyeksi tersebut dan mematok kurs rupiah pada level Rp 14.100 hingga Rp 14.300 per dollar AS hingga akhir tahun.

"Perubahan signifikan terlihat sejak akhir 2018 di mana indikasi perlambatan ekonomi global mulai muncul dan semakin menguat," kata Piter dalam Core Media Discussion: Review Ekonomi Kuartal-I 2019, Selasa (9/4).


Proyeksi perlambatan ekonomi global tersebut ditambah lagi dengan arah kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve yang memutuskan untuk menahan tingkat suku bunga acuannya sepanjang tahun ini. Di sisi lain, Bank Indonesia telah terlebih dahulu menaikkan suku bunga acuan dalam negeri lebih agresif dibandingkan The Fed.

Sentimen tersebut, lanjut Piter, menjadi faktor utama di balik derasnya arus modal asing yang masuk ke Indonesia sejak akhir 2018. Arah kebijakan The Fed yang dovish membuat kondisi real interest rate differential Indonesia terhadap luar negeri menjadi cukup besar dan menarik minat investor asing.

"Besarnya inflow membuat rupiah menguat cukup drastis dari posisinya yang sempat Rp 15.200 per dollar AS menjadi kembali ke Rp 14.100 saat ini," tutur dia.

Piter menilai, kondisi nilai tukar rupiah berpotensi stabil sepanjang tahun di kisaran Rp 14.100 - Rp 14.300 per dollar AS. Dengan catatan, pertumbuhan ekonomi global tetap dalam tren melambat, terutama negara-negara ekonomi besar seperti AS dan China, serta tidak ada perubahan kebijakan moneter dari The Fed.

"Bank Indonesia sendiri kami prediksi tetap menahan suku bunga, namun di saat yang sama menerapkan kebijakan yang lebih longgar melalui operasi moneter yang ekspansif," pungkas Piter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News