KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah dan dolar Taiwan menjadi dua mata uang Asia yang mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (10/8), di tengah pergerakan mayoritas mata uang regional yang cenderung terbatas. Mengutip
Reuters, pada pukul 02.13 GMT, rupiah berada di level Rp17.820 per dolar AS, menguat 0,36% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.885 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Melemah di Pagi Ini (10/8): Profit Taking Jelang Rilis Data Inflasi AS Dolar Taiwan juga menguat 0,18% menjadi 32,230 per dolar AS dari sebelumnya 32,288. Baht Thailand naik 0,09% menjadi 33,00 per dolar AS. Peso Filipina menguat 0,07% menjadi 60,780, sementara ringgit Malaysia naik tipis 0,05% ke level 4,086 per dolar AS. Di sisi lain, yen Jepang melemah 0,32% menjadi 158,280 per dolar AS. Won Korea Selatan turun 0,47% ke level 1.416,20 per dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,10% menjadi 1,279 per dolar AS, sedangkan yuan China turun tipis 0,01% ke level 6,746. Rupee India menjadi satu-satunya mata uang yang relatif stabil dengan posisi 95,208 per dolar AS.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Naik Senin (10/8), Saham Chip Samsung dan SK Hynix Jadi Penopang Rupiah Masih Tertekan Sepanjang 2026 Meski mencatat penguatan pada perdagangan Senin, rupiah masih menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terbesar sepanjang tahun berjalan. Sejak akhir 2025, rupiah telah melemah 6,45% terhadap dolar AS. Posisi tersebut lebih buruk dibandingkan yen Jepang yang turun 1,03%, ringgit Malaysia yang melemah 0,73%, serta won Korea Selatan yang justru menguat 1,65%. Rupee India menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terbesar dalam periode tersebut, yakni 5,61%, disusul baht Thailand yang turun 4,70% dan peso Filipina yang melemah 3,26%.
Baca Juga: Perang Ukraina dan Timur Tengah Kuras Persediaan Rudal Patriot Sementara itu, yuan China menjadi salah satu mata uang yang mencatat penguatan terhadap dolar AS sejak awal 2026 dengan kenaikan 3,58%. Dolar Singapura juga menguat 0,48%. Dolar Taiwan mencatat pelemahan 2,46% sepanjang tahun berjalan, sedangkan rupiah masih menjadi salah satu mata uang regional yang berada di bawah tekanan cukup besar. Pergerakan mata uang Asia pada awal pekan berlangsung di tengah perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.