KONTAN.CO.ID - Sejumlah mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (21/8/2026), dengan won Korea Selatan menjadi mata uang yang mencatat penguatan paling besar. Mengutip
Reuters pukul 02.22 GMT, won Korea menguat 0,96% menjadi 1.382,70 per dolar AS dari posisi sebelumnya 1.396. Dolar Singapura naik 0,15% menjadi 1,270 per dolar AS. Dolar Taiwan menguat 0,16% menjadi 31,875 per dolar AS.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah Jumat (21/8), Saham Teknologi dan Properti Jadi Beban Sementara itu, baht Thailand naik 0,11% menjadi 32,805 per dolar AS. Rupiah Indonesia menguat 0,17% menjadi Rp 17.710 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 17.740 per dolar AS. Yuan China juga menguat tipis 0,04% menjadi 6,723 per dolar AS. Yen Jepang naik 0,03% menjadi 159,01 per dolar AS. Ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang yang melemah, turun 0,07% menjadi 4,043 per dolar AS. Sementara itu, peso Filipina dan rupee India relatif tidak berubah, masing-masing berada di 61,665 dan 95,705 per dolar AS.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Investor Ragukan Upaya Departemen Keuangan Redam Imbal Hasil Rupiah Melemah 5,87% Sepanjang 2026 Meski menguat dalam perdagangan Jumat, rupiah masih mencatat pelemahan cukup dalam sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan posisi terakhir yang dikutip Reuters, rupiah telah melemah 5,87% sepanjang 2026 dibandingkan posisi akhir 2025 di level 16.670 per dolar AS. Baht Thailand menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terbesar kedua sepanjang tahun, yakni 4,13%, diikuti peso Filipina yang melemah 4,65%. Rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar dalam daftar tersebut, yakni 6,10% sepanjang 2026.
Sebaliknya, won Korea menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar sepanjang tahun, mencapai 4,11%.
Baca Juga: Inflasi Inti Jepang Naik pada Juli, Perkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Yuan China juga menguat 3,94%, sedangkan dolar Singapura naik 1,19%. Ringgit Malaysia menguat tipis 0,32%. Di sisi lain, yen Jepang melemah 1,48% dan dolar Taiwan turun 1,37% terhadap dolar AS sepanjang 2026.