Rupiah dan Obligasi Tertekan, Mirae Soroti Ketidakpastian Kebijakan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin berat di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pelemahan rupiah belakangan ini bukan semata dipengaruhi sentimen global, tetapi juga dipicu kekhawatiran pasar terhadap kesinambungan kebijakan moneter Indonesia.

Pada Selasa (28/7) kemarin, rupiah masih bertahan di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dengan pelemahan mencapai sekitar 1% secara month to date (MtD) dan 8,5% sejak awal tahun atau year to date (YtD). Ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menjelaskan, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat mereda setelah adanya jeda sementara konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, ketidakpastian masih tinggi. Iran membantah adanya gencatan senjata resmi dan menegaskan negosiasi dengan AS belum kembali berlangsung.


Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham & Prospek Unilever (UNVR) Saat Kinerja Naik di Semester I-2026

Di sisi lain, perhatian pasar masih tertuju pada Selat Hormuz yang tetap ditutup, sementara aktivitas militer di kawasan masih berlanjut. Meski harga minyak turun lebih dari 2% akibat ekspektasi berkurangnya risiko gangguan pasokan, prospek geopolitik dinilai masih sangat tidak pasti.

Dari domestik, pemerintah juga melonggarkan ketentuan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) bagi ekspor ke AS, China, Australia, dan Kanada. Eksportir pertambangan yang memenuhi syarat kini hanya diwajibkan menempatkan minimal 30% dana hasil ekspor di rekening khusus dalam negeri selama tiga bulan, dibanding aturan sebelumnya yang mewajibkan penempatan 100% selama 12 bulan.

"Meski kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan likuiditas eksportir dan menjaga daya saing perdagangan, relaksasi tersebut berpotensi mengurangi likuiditas valas domestik dan melemahkan dukungan struktural terhadap stabilitas Rupiah," tulis Jessica dalam riset Rabu (29/7).

Baca Juga: Intip Proyeksi Rupiah Hari Ini (29/7) Usai Melemah 5 Sesi Berturut-turut

Jessica juga menilai depresiasi tajam rupiah terutama dipicu oleh kekhawatiran pasar terkait isu pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. 

"Depresiasi rupiah yang tajam terutama didorong oleh kekhawatiran atas isu pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo yang meningkatkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan kebijakan, kredibilitas institusi, dan tata kelola," ujarnya. 

Tekanan juga tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,39%, sedangkan yield tenor dua tahun relatif stabil di 7,11%. Kondisi ini menunjukkan investor masih memilih obligasi berdurasi pendek di tengah tingginya ketidakpastian.

Selain itu, premi risiko Indonesia juga meningkat. Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun naik menjadi 93 basis poin, level tertinggi dalam satu bulan terakhir, yang mencerminkan kenaikan persepsi risiko terhadap aset Indonesia.

Ke depan, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan investor akan tetap bersikap wait and see hingga terdapat kejelasan mengenai penunjukan Gubernur BI yang baru serta langkah pemerintah dalam menjaga kebijakan. 

Permintaan obligasi diperkirakan masih terkonsentrasi pada tenor pendek, sementara arah sentimen pasar akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus dan menjaga kepercayaan terhadap kerangka kebijakan moneter Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News