KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin berat di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pelemahan rupiah belakangan ini bukan semata dipengaruhi sentimen global, tetapi juga dipicu kekhawatiran pasar terhadap kesinambungan kebijakan moneter Indonesia. Pada Selasa (28/7) kemarin, rupiah masih bertahan di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dengan pelemahan mencapai sekitar 1% secara month to date (MtD) dan 8,5% sejak awal tahun atau year to date (YtD). Ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menjelaskan, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat mereda setelah adanya jeda sementara konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, ketidakpastian masih tinggi. Iran membantah adanya gencatan senjata resmi dan menegaskan negosiasi dengan AS belum kembali berlangsung.
Rupiah dan Obligasi Tertekan, Mirae Soroti Ketidakpastian Kebijakan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin berat di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan di dalam negeri. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pelemahan rupiah belakangan ini bukan semata dipengaruhi sentimen global, tetapi juga dipicu kekhawatiran pasar terhadap kesinambungan kebijakan moneter Indonesia. Pada Selasa (28/7) kemarin, rupiah masih bertahan di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dengan pelemahan mencapai sekitar 1% secara month to date (MtD) dan 8,5% sejak awal tahun atau year to date (YtD). Ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menjelaskan, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat mereda setelah adanya jeda sementara konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, ketidakpastian masih tinggi. Iran membantah adanya gencatan senjata resmi dan menegaskan negosiasi dengan AS belum kembali berlangsung.