KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), untuk menahan suku bunga acuan memberikan sentimen yang signifikan terhadap pasar global maupun domestik. Di tengah tekanan pelemahan rupiah dan hasil lelang yang kurang memuaskan, pasar obligasi di dalam negeri kembali bergejolak, membuka peluang bagi investor untuk mencermati proyeksi pergerakan yield dan mengoleksi seri Surat Berharga Negara (SBN) pilihan. Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan memaparkan, obligasi domestik kembali mendapat tekanan setelah hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang lebih lemah, di mana pelemahan rupiah yang berlanjut juga menambah nada kehati-hatian di pasar.
Baca Juga: IHSG Melemah ke 5.270,3 di Pagi Ini (29/10), Top Losers LQ45: ISAT, CUAN, ASII Tekanan ini secara langsung tercermin dari kenaikan nilai tukar USD/IDR sebesar 0,10% menjadi Rp 18.175 seiring dengan pelemahan mata uang Garuda yang berlanjut hingga sesi ketiga. Pelemahan tersebut juga tidak lepas dari faktor eksternal, termasuk harga minyak yang lebih tinggi, posisi dolar AS yang menguat menjelang keputusan Federal Open Market Committee (FOMC), serta kekhawatiran berkelanjutan terkait MSCI yang membebani sentimen. Di pasar global, kebijakan moneter AS kembali menjadi sorotan utama para pelaku pasar. "The Fed mempertahankan suku bunga kebijakannya pada 3,75%-4,00%, sementara suara yang berbeda (
dissenting votes) untuk kenaikan 25bp menggarisbawahi kekhawatiran yang masih ada atas inflasi," tutur Ridwan dalam risetnya, Kamis (29/10/2026). Kondisi makroekonomi tersebut seketika berdampak pada penyesuaian harga obligasi di dalam negeri. Imbal hasil (
yield) obligasi domestik dilaporkan meningkat antara 5 hingga 13 basis poin (bps) di berbagai tenor.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 18.170 Per Dolar AS Hari Ini (29/10), Asia Perkasa Penyesuaian harga (repricing) paling tajam terjadi pada segmen tenor 8-12 tahun dibandingkan dengan tenor yang lebih panjang. Lebih lanjut, obligasi acuan atau
benchmark tenor 10 tahun mengalami kenaikan yield sebesar 11,8 bps ke level 7,64%, yang pada gilirannya memperlebar selisih (spread) terhadap US Treasury 10 tahun menjadi sekitar 259 bps. Meskipun diliputi tekanan, aktivitas perdagangan di pasar sekunder tetap mencatatkan perputaran yang aktif pada beberapa seri obligasi pemerintah dan sukuk. Seri PBS003 mencetak rekor nilai transaksi atau turnover tertinggi yang mencapai Rp 11,78 triliun, disusul oleh FR0110 sebesar Rp 4,49 triliun, dan FR0111 senilai Rp 3,17 triliun. Berdasarkan frekuensi transaksinya, aktivitas pasar dipimpin oleh seri PBS030 secara bersamaan dengan FR0111, PBS003, FR0110, serta FR0107. Investor dapat memantau ketat rentang pergerakan yield sebagai panduan dalam melakukan penempatan dana harian.
Baca Juga: Garuda Metalindo (BOLT) Catak Penjualan Rp 1,42 Triliun di Kuartal III-2026 "Mengingat perkembangan terkini di pasar global dan domestik, kami memperkirakan imbal hasil Indo-GB bertenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,45-7,60% untuk hari ini," ungkap Ridwan. Sebagai strategi dan pilihan trading pada hari ini, Ridwan merekomendasikan sejumlah seri SBN domestik yang dinilai cukup atraktif bagi investor, yaitu FR0090, PBS030, FR0109, FR0110, dan FR0065. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News