KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah dan sejumlah mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Tekanan terhadap mata uang regional terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga global akibat lonjakan harga minyak dan risiko inflasi.
Baca Juga: Malaysia Masuk 3 Besar, Ini 20 Negara Terbaik untuk Ditinggali di Tahun 2026 Mengacu pada data Reuters pukul 02.04 GMT, rupiah berada di level Rp 17.580 per dolar AS, melemah 0,28% dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya di Rp 17.530 per dolar AS. Rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mengalami pelemahan pada perdagangan tersebut. Ringgit Malaysia turun 0,22% ke level 4,070 per dolar AS, sedangkan dolar Taiwan melemah 0,24% menjadi 31,625 per dolar AS. Peso Filipina juga turun 0,19% ke 62,707 per dolar AS. Baht Thailand melemah 0,08% menjadi 33,135 per dolar AS. Di sisi lain, won Korea Selatan menguat 0,13% menjadi 1.347,67 per dolar AS. Yen Jepang juga menguat tipis 0,03% menjadi 154,37 per dolar AS.
Baca Juga: Dolar Australia Tertekan Jumat (11/9), Yield Obligasi Tembus Level Tertinggi 15 Tahun Tekanan terhadap mata uang Asia terjadi ketika dolar AS mendapatkan dukungan dari kenaikan yield obligasi pemerintah AS. Investor meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi. Lonjakan harga minyak juga menjadi perhatian pasar. Harga minyak Brent telah menembus US$ 100 per barel dan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global apabila gangguan pasokan energi di Timur Tengah berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga dan bahkan mendorong sejumlah bank sentral mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter.
Baca Juga: Nikkei Jepang Anjlok 3% Jumat (11/9), Harga Minyak dan The Fed Jadi Beban Rupiah melemah 5,18% sepanjang 2026 Secara kumulatif sejak awal 2026, rupiah tercatat melemah 5,18% terhadap dolar AS. Pada akhir 2025, rupiah berada di level Rp 16.670 per dolar AS. Dengan posisi Rp 17.580, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mengalami pelemahan cukup dalam sepanjang tahun berjalan. Peso Filipina menjadi mata uang yang mengalami pelemahan terbesar dalam daftar tersebut, yakni 6,23%. Rupee India melemah 5,84%, sedangkan baht Thailand turun 5,09%. Won Korea Selatan justru menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar, mencapai 6,89% sejak akhir 2025.
Baca Juga: Yield Treasury AS Mendekati 5%, Saham Asia Berguguran Yuan China menguat 4,12%, sementara yen Jepang naik 1,48%. Dolar Singapura menguat 1,38%. Ringgit Malaysia relatif stabil dengan pelemahan 0,34%, sedangkan dolar Taiwan melemah 0,59% sejak akhir 2025. Pergerakan mata uang Asia selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, data inflasi AS, perkembangan harga minyak serta eskalasi konflik di Timur Tengah.