Rupiah Dekati Rekor Terendah, Transisi BI dan The Fed Jadi Sorotan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026), memperpanjang tren penurunan menjadi lima hari berturut-turut.

Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar pascapengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI), sementara pelaku pasar juga menanti hasil rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve.

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.083 per dolar AS atau melemah 0,41% dibandingkan penutupan perdagangan Senin (27/7/2026) yang berada di Rp 18.009 per dolar AS.


Sejalan dengan itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke level Rp 18.088 per dolar AS, turun 0,52% dari posisi sebelumnya sebesar Rp 17.995 per dolar AS.

Dengan pelemahan tersebut, nilai tukar rupiah semakin mendekati rekor terendah sepanjang masa di level Rp 18.190 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026.

Baca Juga: Laba Unilever Indonesia (UNVR) Naik 37,7%, Analis Sebut Momentum Pemulihan Berlanjut

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pasar sempat memberikan respons negatif terhadap pengunduran diri Perry Warjiyo karena dinilai menambah ketidakpastian di tengah tekanan terhadap rupiah, derasnya arus keluar modal asing (capital outflow), serta potensi kenaikan suku bunga global.

"Ketidakpastian ekonomi dalam negeri usai pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepemimpinan yang baru di tengah depresiasi rupiah, derasnya outflow dana asing serta potensi tren kenaikan suku bunga global," ujar Ibrahim, Selasa (28/7/2026).

Meski demikian, Ibrahim menilai penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia mampu memberikan keyakinan kepada pelaku pasar bahwa bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan.

Menurutnya, fokus investor selanjutnya akan tertuju pada proses penunjukan Gubernur BI definitif. Transisi kepemimpinan yang berlangsung lancar serta terpilihnya sosok yang memiliki kredibilitas tinggi dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap independensi Bank Indonesia.

S&P Nilai Dampak terhadap Peringkat Utang Masih Terbatas

Selain dinamika di dalam negeri, Ibrahim juga menyoroti respons lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings terhadap pengunduran diri Perry Warjiyo.

Ia menyebut Sovereign Analyst S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan kepada Bloomberg bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo tidak memberikan dampak langsung terhadap sovereign rating Indonesia. Namun, perkembangan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap prospek kebijakan ekonomi Indonesia di masa mendatang.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa meskipun peringkat utang Indonesia belum terdampak, investor tetap mencermati arah kebijakan moneter dan kesinambungan kepemimpinan di Bank Indonesia sebagai faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Melemah Terbatas pada Rabu (29/7), Cek Rekomendasinya

Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Dari eksternal, Ibrahim memperkirakan perhatian pelaku pasar pada perdagangan Rabu (29/7/2026) akan tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve.

Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, pasar masih menunggu sinyal mengenai arah kebijakan selanjutnya di tengah dinamika inflasi dan perkembangan geopolitik global.

Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan pernyataan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh. Sejak keputusan suku bunga terakhir pada Juni lalu, Warsh dinilai menyampaikan komentar yang cenderung hawkish dan menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga.

“Kalender ekonomi minggu ini juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter, karena para pelaku pasar akan menerima data PDB AS kuartal kedua serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi Fed,” lanjut Ibrahim

Menurut Ibrahim, kombinasi sentimen domestik dan global tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (29/7/2026) akan bergerak di kisaran Rp 17.960 hingga Rp 18.020 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News