KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) bergerak berlawanan arah pada Rabu (14/10/2026). Melansir data
Bloomberg pada Rabu (14/10/2026), rupiah ditutup melemah tipis atau 0,02% secara harian ke level Rp 17.903 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.900 per dolar AS. Kendati demikian, penguatan tercermin pada kurs Jisdor. Berdasarkan data BI, rupiah berada di level Rp 17.898 per dolar AS. Nilai ini menguat 0,18% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang sebesar Rp 17.930 per dolar AS.
Baca Juga: Pendapatan Emiten Konsumer Diprediksi Tumbuh, Cek Rekomendasi Saham dari Analis Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen eksternal yang perlu dicermati pelaku pasar. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas administrasi perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan. Selain itu, ketegangan juga meningkat setelah Iran dilaporkan menerapkan strategi baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak global dan menjaga harga energi tetap tinggi dan juga memengaruhi pemilihan umum paruh waktu AS. Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan Oktober 2026, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1%, dari sebelumnya 5% dalam laporan Juli 2026. Kata Ibrahim, IMF menyoroti dua kekuatan transformative yang membentuk kembali ekonomi global, yaitu geopolitik dan teknologi. Setiap negara dinilai memiliki dampak paparan berbeda dari sisi ekonomi tergantung dari kedekatan dengan wilayah konflik maupun sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas. “Tidak hanya itu, situasi ekonomi setiap negara berbeda tergantung kepada kemampuan mereka memanfaatkan lonjakan sektor kecerdasan buatan (AI),” ungkap Ibrahim, Rabu (14/10/2026). Untuk perdagangan Kamis (14/10), pelaku pasar menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk September. Data tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memberikan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Baca Juga: Penjualan Mobil Masih Lesu, Cek Prospek dan Rekomendasi Saham ASII hingga Akhir 2026 Inflasi utama AS pada September diperkirakan meningkat 0,6% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Adapun inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,7%, dari sebelumnya 3,4%. Apabila inflasi AS melampaui ekspektasi, pasar berpotensi memperhitungkan peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat menopang dolar AS dan membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.900-Rp 17.950 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News