Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp 17.450 - Rp 17.650 pada Jumat (11/9)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan menguat terbatas pada perdagangan Jumat (11/9/2026).

Mengutip data Bloomberg pada Kamis (10/9/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,2% ke level Rp 17.547 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp17.536 per dolar AS atau menguat 0,09%.


Baca Juga: Raharja Energi (RATU) Private Placement Maksimal 10%, Untuk Apa Saja?

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (10/9/2026) dipengaruhi oleh dinamika tiga kelompok sentimen, yakni pelemahan indeks dolar AS (DXY) di sekitar 98,8, tekanan kenaikan harga minyak Brent yang menembus US$100 per barel dan tingginya yield US Treasury 10 tahun di 4,84%, serta daya tahan modal asing di pasar obligasi domestik yang masuk mencapai US$90,5 juta.

Untuk perdagangan Jumat (11/9/2026), Nanang mengatakan bahwa perhatian utama pasar global akan tertuju pada rilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat.

Data ini menjadi penentu penting mengingat pelaku pasar tengah melakukan repricing terhadap arah kebijakan moneter The Fed menjelang pertemuan 15–16 September, di mana ekspektasi kenaikan suku bunga telah berada di sekitar 60%.

Jika inflasi AS ternyata lebih tinggi dari perkiraan, yield US Treasury dan dolar AS berpotensi menguat sehingga menekan rupiah.

Sebaliknya, apabila data CPI AS lebih rendah dari ekspektasi, dolar AS berpotensi melemah dan membuka ruang penguatan bagi mata uang Garuda.

Selain inflasi AS, faktor risiko eksternal lain berasal dari lonjakan harga minyak mentah Brent di atas US$ 100 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Laba Bersih Raharja Energi (RATU) Melonjak 102% di Semester I 2026, Ini Pendorongnya

Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi global memperbesar kebutuhan dolar AS untuk impor serta meningkatkan risiko inflasi global.

Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah Indonesia masih menjadi penopang rupiah lewat masuknya arus modal asing.

Kebijakan stabilisasi Bank Indonesia melalui intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan NDF, serta cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar dipandang sebagai bantalan kuat dalam menahan tekanan eksternal.

"Dengan demikian, ruang pelemahan rupiah akibat sentimen eksternal berpotensi lebih terbatas selama arus modal asing masih masuk dan Bank Indonesia tetap aktif melakukan stabilisasi," kata Nanang kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).

Nanang memproyeksikan rupiah berada pada rentang Rp 17.450 – Rp 17.650 per dolar AS per dolar AS untuk Jumat (11/9/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News