KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi diwarnai kombinasi sentimen eksternal dan domestik setelah sempat menguat di pasar spot pada perdagangan sebelumnya. Berdasarkan data
Bloomberg pada Selasa (8/9/2026), rupiah
spot menguat 0,05% atau naik 8,00 poin ke level Rp 17.632 per dolar AS. Sementara itu, kurs transaksi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menguat 0,20% dari posisi Rp 17.653 per dolar AS pada hari sebelumnya menjadi Rp 17.618 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 1,01% ke 6.686 pada Selasa (8/9), MBMA, MDKA, AMMN Top Gainers LQ45 Pada perdagangan Selasa (8/9/2026), pergerakan rupiah menguat ditopang oleh indeks dolar AS yang cenderung konsolidatif serta posisi cadangan devisa Agustus 2026 sebesar US$ 146,5 miliar yang memberikan amunisi bagi Bank Indonesia. Selain itu, optimalisasi penyerapan likuiditas lewat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut menjaga kepercayaan pasar. Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyampaikan bahwa arah pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Rabu (9/9) bakal banyak dipengaruhi oleh penantian kejelasan arah kebijakan moneter di AS. Selain itu, pergerakan harga minyak mentah dunia yang bertahan tinggi akibat eskalasi geopolitik serta pengetatan pasokan global turut membayangi sentimen rupiah terkait beban impor energi. Dari dalam negeri, pasar mencermati kualitas penyangga eksternal cadangan devisa di tengah kebutuhan pembayaran utang luar negeri, efektivitas penyerapan likuiditas SRBI, hingga dinamika aliran modal asing di pasar SBN dan saham. "Pelaku pasar terus mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat lanjutan, terutama indikator tenaga kerja dan inflasi untuk mengukur kepastian apakah bank sentral AS akan benar-benar menahan suku bunga atau kembali mengambil sikap
hawkish," ungkap Rahma kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Masih Bullish, Begini Proyeksi Harga Tembaga di Akhir 2026 Rahma menambahkan bahwa koordinasi instrumen moneter domestik tetap memegang peranan krusial untuk menjaga daya tarik aset portofolio pasar keuangan dalam negeri. "Konsistensi efektivitas instrumen penyerapan likuiditas domestik seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan operasi pasar valas dalam menjaga daya tarik aset portofolio asing agar tetap betah di pasar keuangan dalam negeri," tegasnya. Rahma memproyeksikan rupiah pada perdagangan Rabu (9/9) bergerak fluktuatif namun terbatas di rentang Rp 17.580 hingga Rp 17.680 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News