Rupiah Diprediksi Masih Tertekan hingga Akhir Oktober



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih dibayangi tekanan eksternal dan domestik menjelang pekan terakhir Oktober 2026.

Melansir Bloomberg pada Jumat (23/10/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11% secara harian menjadi Rp 18.080 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,29% dari posisi Rp 18.027 per dolar AS pada Jumat (16/10/2026) pekan lalu.

Kurs rupiah Jisdor hari ini melemah 0,12% secara harian menjadi Rp 18.069 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor melemah 0,9% dari posisi Rp 18.052 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.


Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan pergerakan rupiah sepanjang pekan ini memang cenderung bervariasi, tetapi masih berkonsolidasi di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Baca Juga: Kontrak Baru dan Sukuk Jadi Katalis Positif Darma Henwa (DEWA), Cek Rekomendasinya

Dari eksternal, tekanan datang dari inflasi AS yang tinggi sehingga menjaga ekspektasi suku bunga The Fed tetap ketat dalam waktu lebih lama. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun yang bertahan di atas 5% juga meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.

Selain itu, indeks dolar AS (DXY) yang berada di kisaran 101,8-102 turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Dari dalam negeri, kekhawatiran pelaku pasar terkait kriteria likuiditas dan transparansi indeks saham global (seperti sentimen isu Standalone MSCI) masih menyisakan kehati-hatian investor asing di bursa saham, memicu repatriasi devisa secara bertahap,”  jelas Wahyu kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Kebutuhan dolar AS dari korporasi domestik menjelang akhir bulan juga menambah tekanan. Permintaan valas untuk pembayaran utang luar negeri, impor, serta repatriasi dividen secara musiman dapat mempengaruhi likuiditas dolar di pasar spot.

Memasuki pekan depan, Wahyu memperkirakan rupiah masih cenderung tertekan dengan kecenderungan bergerak melemah. Namun, intervensi BI diperkirakan dapat menahan laju depresiasi sehingga rupiah tidak serta-merta mengalami pelemahan tajam.

Baca Juga: Bitcoin Gagal Bertahan Dekati US$ 85.000, Arus Dana ETF Jadi Perhatian

Menurut Wahyu, langkah BI dalam meredam volatilitas pasar valuta asing akan menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan apakah rupiah dapat bertahan di bawah Rp 18.200 per dolar AS.

Sejumlah sentimen yang perlu dicermati antara lain rapat Federal Open Market Committee (FOMC), estimasi awal pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2026, serta data inflasi inti berdasarkan indeks Personal Consumption Expenditures (Core PCE).

Mempertimbangkan faktor di atas, Wahyu memproyeksikan rupiah bergerak pada rentang Rp 17.900-Rp 18.200 per dolar AS selama sepekan ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News