Rupiah Diprediksi Volatil Pekan Depan, Pasar Menanti Data Inflasi AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan volatilitas pada pekan depan. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama data inflasi, di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Mengutip data Bloomberg pada Jumat (11/9/2026), rupiah berada di level Rp 17.611 per dolar AS atau melemah 64 poin (0,36%) dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, rupiah terdepresiasi 31 poin (0,18%) dibandingkan posisi Jumat (4/9/2026) yang berada di level Rp 17.642 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp 17.611 per dolar AS pada Jumat (11/9/2026). Posisi tersebut melemah 75 poin (0,43%) dari Rp 17.536 per dolar AS pada Kamis (10/9), serta terdepresiasi 25 poin (0,14%) dibandingkan posisi Jumat (4/9) sebesar Rp 17.636 per dolar AS.


Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa menjelaskan, pergerakan rupiah sepanjang pekan ini dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

Baca Juga: Tertekan Sentimen Global, Intip Pergerakan Rupiah Sepekan dan Proyeksinya

Rilis data ketenagakerjaan AS serta Indeks Harga Produsen (PPI) Agustus yang melonjak hingga 5,4% year-on-year (YoY) mengindikasikan tekanan inflasi eksternal yang masih persisten. Kondisi tersebut mendorong pasar memperhitungkan potensi kebijakan suku bunga AS yang lebih ketat sekaligus menjaga yield US Treasury tetap tinggi.

"Kondisi tersebut mendorong pasar untuk memperhitungkan kebijakan The Fed yang lebih ketat dan menjaga yield US Treasury tetap tinggi," kata Amru kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih dapat diredam oleh sejumlah indikator ekonomi domestik yang relatif solid. Ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga minyak global menjadi faktor eksternal yang membebani mata uang Garuda, tetapi kondisi tersebut diimbangi oleh sentimen positif dari pasar domestik.

Salah satu penopang rupiah berasal dari masuknya aliran dana asing ke pasar obligasi pemerintah. Arus modal tersebut didukung oleh tingkat imbal hasil aset domestik yang dinilai kompetitif serta persepsi positif investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Sentimen domestik juga mendapat dukungan dari meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 yang mencapai level 118,5. Kenaikan tersebut mencerminkan optimisme konsumen yang masih terjaga dan menjadi salah satu faktor yang dapat menopang sentimen terhadap perekonomian nasional.

Baca Juga: Dana Asing Berpotensi Kembali ke Pasar Keuangan Indonesia, Ini Pemicunya

Di sisi lain, Amru menyebut pelemahan indeks dolar AS (DXY) pada beberapa sesi perdagangan turut memberikan ruang bagi rupiah untuk mengalami penguatan.

Namun, arah rupiah pada pekan depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan pasar global. Salah satu perhatian utama investor adalah rilis data Consumer Price Index (CPI) atau inflasi AS yang akan keluar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 15–16 September 2026.

Selain data inflasi AS, pelaku pasar akan mencermati pergerakan arus modal asing serta langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Amru memperkirakan rupiah pada pekan depan masih bergerak volatil dengan rentang Rp 17.400 hingga Rp 17.700 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News