KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen global, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed, data ekonomi Amerika Serikat (AS), serta perkembangan geopolitik. Melansir data Bloomberg pada Selasa (6/10/2026), rupiah spot berada di level Rp 17.899 per dolar AS atau menguat 0,10%. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia mencatat penguatan 0,039% ke level Rp 17.910 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya di level Rp 17.917 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada Selasa (6/10/2026) dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat konflik di Yaman dan Arab Saudi. Selain itu, data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang meleset dari ekspektasi turut meredam dominasi dolar AS.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Cermati Level Ini pada Perdagangan Rabu (7/10) Untuk perdagangan Rabu (7/10/2026), Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh rilis laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS bulan Agustus yang berada di bawah ekspektasi pasar dan memberikan katalis signifikan terhadap pergerakan pasar. "Secara keseluruhan, data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026). Pelaku pasar global kini bersikap waspada sembari menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September pada Rabu. Rilis tersebut kemudian akan disusul dengan data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis. Dari dalam negeri, sentimen positif terhadap rupiah datang dari Bank Dunia yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2%. Peningkatan proyeksi tersebut terutama ditopang oleh penguatan konsumsi swasta, besarnya subsidi energi, serta implementasi sejumlah program prioritas pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Momentum Ramadan dan Idulfitri yang berlangsung lebih awal, disertai pencairan tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13, juga dinilai berhasil mendorong pengeluaran pemerintah lebih awal dalam siklus fiskal. Kebijakan pemerintah untuk mempertahankan subsidi bahan bakar juga dinilai berhasil menahan tekanan inflasi. Tingkat inflasi tercatat turun dari 4,8% pada Februari menjadi 3,4% pada Juli 2026. Meski demikian, Ibrahim mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan struktural yang dapat menahan penguatan rupiah.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Gejolak Global, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026 Aktivitas ekonomi domestik menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Hal tersebut tercermin dari penurunan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada Agustus serta melemahnya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada Juli. Pelebaran defisit juga menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap tren fiskal dan peringkat utang negara. Sementara itu, arus modal keluar portofolio sempat mencapai 0,2% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama.
"Di samping itu, Bank Dunia memproyeksikan bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan akan melebar menjadi 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026," papar Ibrahim. Dengan mempertimbangkan dinamika eksternal dan fundamental makroekonomi domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (7/10/2026) masih akan bergerak fluktuatif. Nilai tukar rupiah diperkirakan berpeluang ditutup melemah pada rentang Rp 17.890 hingga Rp 17.940 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News