KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.900 per dolar AS. Meskipun berhasil menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan, pergerakan mata uang Garuda masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat volatilitas diperkirakan berlanjut. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,18% ke level Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (3/7), dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp 17.995 per dolar AS. Sepanjang pekan ini, level Rp 17.995 per dolar AS yang tercatat pada Kamis (2/7/2026) menjadi titik pelemahan terdalam rupiah. Penguatan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Nilai tukar referensi tersebut naik 0,19% menjadi Rp 17.960 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.994 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah pada akhir pekan lebih banyak didorong oleh perpaduan faktor global dan domestik.
Sentimen Global Masih Mendominasi Pergerakan Rupiah
"Pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah," ujar Ibrahim, Jumat (3/7/2026). Dari sisi eksternal, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan optimistis bahwa Iran telah menyetujui hampir seluruh poin penting dalam perundingan.
Baca Juga: Menghitung Peluang Pasar Saham Indonesia Turun ke Frontier Market di November 2026 Namun, laporan Wall Street Journal menyebut Teheran menolak usulan terkait Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencairan aset yang selama ini dibekukan. Situasi tersebut membuat risiko geopolitik masih membayangi pasar keuangan global, meskipun kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia mulai berkurang. Investor kini menunggu perkembangan terbaru negosiasi AS-Iran sekaligus mencermati prospek permintaan minyak global. Selain faktor geopolitik, pelemahan dolar AS juga dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar. Data Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) menunjukkan ekonomi AS hanya mampu menciptakan 57.000 lapangan kerja baru pada Juni, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 110.000. Sementara itu, data Mei juga direvisi turun menjadi 129.000 dari sebelumnya 172.000. Di sisi lain, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2% dari 4,3%. Adapun rata-rata upah per jam meningkat 0,3% secara bulanan dan 3,5% secara tahunan, sesuai dengan ekspektasi pasar. Menurut Ibrahim, data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga semakin terbatas. Ibrahim menyebut berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi 51% dari sebelumnya 63%.
Perlambatan Penerimaan Pajak Jadi Sorotan dari Dalam Negeri
Dari faktor domestik, Ibrahim juga menilai perlambatan pertumbuhan penerimaan pajak penghasilan berpotensi memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Mengacu pada laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026, penerimaan pajak atas penghasilan, laba, dan keuntungan modal pada 2024 tercatat sebesar Rp 1.061,94 triliun. Angka tersebut hanya tumbuh 0,07% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp 1.061,24 triliun.
Baca Juga: Direktur Bumi Resources Minerals (BRMS) Tambah Investasi, Borong 400.000 Saham Kenaikan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total penerimaan pajak nasional yang meningkat sekitar Rp 103 triliun menjadi Rp 2.620,67 triliun sepanjang 2024. Perlambatan terutama dipengaruhi oleh penurunan penerimaan pajak penghasilan badan yang turun dari Rp 829,66 triliun pada 2023 menjadi Rp 818,30 triliun pada 2024. Sebaliknya, penerimaan pajak penghasilan orang pribadi masih menunjukkan pertumbuhan, yakni dari Rp 231,59 triliun menjadi Rp 243,64 triliun.
"Meski mulai melambat, pajak penghasilan masih menjadi salah satu sumber utama penerimaan negara," kata Ibrahim.
Proyeksi Rupiah Pekan Depan
Dengan berbagai sentimen yang masih berkembang, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada pekan depan akan tetap berfluktuasi. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.100 per dolar AS, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan kebijakan moneter The Fed, dinamika geopolitik di Timur Tengah, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News