KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (8/10/2026), meski ruang penguatannya masih terbatas. Pelaku pasar akan mencermati pergerakan yield Treasury Amerika Serikat (AS), dolar AS, harga minyak, serta risalah
Federal Open Market Committee (FOMC). Berdasarkan data Bloomberg, pada hari ini (7/10/2026) rupiah ditutup di level Rp 17.887 per dolar AS menguat tipis 0,07% dari perdagangan sebelumnya. Sementara berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah ditutup di level Rp 17.880 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 0,17% dibandingkan perdagangan Selasa (6/10/2026) di level Rp 17.910 per dolar AS.
Baca Juga: Investor Kripto Wajib Cermati Empat Sentimen Ini pada Kuartal IV-2026 Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari tingginya yield Treasury AS dan preferensi investor terhadap aset dolar AS. "Tekanan terbesar masih berasal dari diferensial imbal hasil dan preferensi investor terhadap aset dolar. Ketika yield Treasury AS tetap tinggi, aset dolar menjadi relatif lebih menarik, terutama dalam kondisi ketidakpastian global," ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (7/10/2026). Dari domestik, posisi cadangan devisa masih menjadi salah satu penyangga rupiah. Cadangan devisa Indonesia pada September 2026 berada di sekitar US$ 146,3 miliar, hanya sedikit turun dibandingkan posisi Agustus. Menurut Yusuf, kondisi tersebut menunjukkan ruang Bank Indonesia untuk melakukan intervensi masih cukup kuat dalam meredam volatilitas rupiah. Namun, intervensi BI dinilai lebih berperan menjaga stabilitas ketimbang mengubah arah tren rupiah. Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun ke sekitar 7,16% juga perlu dicermati karena belum tentu menunjukkan meningkatnya daya tarik aset rupiah. "Yang perlu dilihat bukan hanya level yield, tetapi juga arah aliran modal asing," pungkas Yusuf. Selain yield AS dan arus modal, harga minyak menjadi sentimen yang perlu diperhatikan. Jika harga Brent bertahan di atas US$ 100 per barel, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat karena Indonesia masih merupakan net importer minyak. Kenaikan harga energi akan meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor dan berpotensi berdampak pada inflasi.
Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Turun ke US$ 4.064 Jelang Risalah FOMC Pada perdagangan Kamis, pasar juga akan mencermati risalah FOMC. Jika risalah menunjukkan tekanan inflasi AS mulai mereda dan kebutuhan kenaikan suku bunga tambahan semakin kecil, yield Treasury dan dolar AS berpeluang turun sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, sinyal pengetatan kebijakan yang lebih lanjut dapat kembali menekan mata uang negara berkembang. "Untuk saat ini, saya melihat perdagangan Kamis lebih mungkin berupa konsolidasi daripada pembalikan tren. Rupiah memiliki bantalan kebijakan yang cukup kuat, tetapi lingkungan global belum mendukung penguatan besar," kata Yusuf.
Dengan mempertimbangkan sentimen tersebut, rupiah pada perdagangan Kamis diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.830-Rp 17.960 per dolar AS, dengan area Rp 17.860-Rp 17.930 sebagai rentang yang lebih mungkin. Jika yield AS turun dan sentimen global membaik, rupiah berpeluang menguji Rp 17.850, sedangkan kenaikan yield Treasury, harga minyak dan arus keluar modal dapat mendorong rupiah kembali mendekati Rp 17.950 per dolar AS.
Baca Juga: Marketing Sales PANI Tumbuh 66%, Tapi Target Rp 4,3 Triliun Dinilai Masih Menantang Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News