KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi tekanan eksternal dan domestik di tengah lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya risiko fiskal. Tekanan rupiah diprediksi masih akan berlanjut pada pekan depan. Melansir Bloomberg pada Jumat (23/10/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11% secara harian menjadi Rp 18.080 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,29% dari posisi Rp 18.027 per dolar AS pada Jumat (16/10) pekan lalu. Kurs rupiah Jisdor melemah 0,12% secara harian menjadi Rp 18.069 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026). Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor melemah 0,9% dari posisi Rp 18.052 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan, untuk pekan depan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.250 per dolar AS.
Baca Juga: Pembangunan Graha Lestari (PGLI) Ekspansi Le Chic Bakehouse, Buka Gerai Baru di Medan Ibrahim menyoroti kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi menyusul serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi. Ia menyebut Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, yang berada di kawasan Teluk dekat Bahrain, di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Eskalasi konflik tersebut menambah ketidakpastian terhadap pasokan minyak dunia. Jika gangguan pasokan berlanjut dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap kebutuhan impor energi serta stabilitas rupiah berpotensi berlanjut. Sedikit mereview, pergerakan rupiah pekan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia yang berada di kisaran US$ 100 per barel, bersamaan dengan lonjakan harga pangan, menimbulkan tekanan ganda (
double shock) terhadap perekonomian nasional. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama melalui kebutuhan subsidi bahan bakar minyak (BBM),
liquefied petroleum gas (LPG), serta kompensasi energi. Sebagai negara pengimpor bersih minyak (
net oil importer), kenaikan harga minyak mentah internasional di atas asumsi makro APBN dapat memperbesar kebutuhan belanja energi pemerintah. Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) juga berpotensi memperlebar defisit APBN. “Dalam hal tersebut Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit yaitu menahan harga energi domestik yang berisiko memperlebar defisit APBN atau menyesuaikan harga energi domestik tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga akan memberatkan Masyarakat,” ujar Ibrahim, Jumat (23/10/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat 4,90% dalam Sepekan, Cek Proyeksinya untuk Senin (26/10/2026) Kondisi itu, berdampak terhadap tekanan nilai tukar dan pembiayaan utang karena tingginya impor energi meningkatkan kebutuhan devisa dolar AS, yang menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan mata uang berisiko memperbesar biaya pembayaran imbal hasil (yield) dan pokok utang luar negeri, membuat daya beli masyarakat menurun terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah, yang porsi pengeluarannya bertumpu pada kebutuhan dasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News