Rupiah Diproyeksi Stabil di 2026, Ditopang Arus Modal Asing dan Prospek Ekonomi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arah arus modal asing pada 2026 diperkirakan makin deras ke pasar saham Indonesia.

Prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik, pengelolaan pemerintahan yang dinilai lebih solid, serta perbaikan iklim investasi menjadi faktor penarik.

Masuknya dana asing ini tak hanya menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.


Optimisme pasar tercermin sejak awal tahun. Pada perdagangan perdana 2026, Jumat (2/1/2025), IHSG ditutup menguat 1,17% atau naik 101,194 poin ke level 8.748,132. Capaian ini sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah.

Baca Juga: Mesin Pertumbuhan Ekonomi Belum Bertenaga Tahun Depan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa IHSG berpeluang menembus level 10.000 pada tahun ini. Pandangan tersebut dinilai realistis oleh Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto.

“Kami masih melihat prospek pertumbuhan ekonomi akan meningkat, sehingga target IHSG 10.000 pada akhir 2026 masih masuk akal,” ujar Myrdal, Minggu (4/1/2026).

Menurut Myrdal, sentimen positif datang dari perbaikan manajemen pemerintahan dan pengelolaan keuangan negara. Upaya pemerintah mengurai berbagai hambatan investasi (debottlenecking) juga dinilai memperkuat kepercayaan investor asing terhadap pasar domestik.

Dari sisi moneter, ruang penurunan suku bunga memang terbatas. Namun, dampak pelonggaran yang dilakukan pada tahun lalu diperkirakan masih berlanjut hingga 2026 dan memberi dukungan tambahan bagi pasar keuangan.

Baca Juga: IHSG Menguat 22,13%, Asing Net Sell Rp 17,34 Triliun Pada 2025, Prospek 2026 Membaik

Kondisi eksternal juga berpotensi memberi angin segar. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Venezuela, misalnya, dinilai bisa mengerek harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, mulai dari energi seperti batu bara dan minyak, hingga sawit dan mineral seperti emas. Kenaikan kinerja ekspor ini berpeluang menambah pasokan devisa dan memperkuat fondasi rupiah.

Dengan kombinasi faktor tersebut, Myrdal memproyeksikan pergerakan rupiah tetap terkendali dan tidak jauh dari asumsi APBN 2026 di level Rp 16.500 per dolar AS.

“Kami memperkirakan rupiah di akhir tahun berada di sekitar Rp 16.360 per dolar AS, dengan rata-rata tahunan di kisaran Rp 16.547,” ujarnya.

Meski demikian, risiko eksternal tetap membayangi. Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengingatkan, penguatan dolar AS, lonjakan harga energi global, serta potensi pembalikan arus modal dapat memberi tekanan pada rupiah.

Baca Juga: Sentimen Global dan Domestik Tekan Rupiah, Ruang Penguatan di 2026 Dinilai Terbatas

“Kunci stabilitas rupiah bukan hanya pada respons moneter yang defensif, tetapi juga pada penguatan sumber pasokan devisa dan kredibilitas kebijakan makro secara keseluruhan,” kata Rizal.

Dengan aliran modal asing yang diharapkan berlanjut dan dukungan fundamental domestik, rupiah diproyeksikan tetap stabil pada 2026. Namun, kewaspadaan terhadap dinamika global tetap menjadi syarat utama agar nilai tukar tetap terjaga.

Selanjutnya: IHSG Ada Potensi Menguat, Berikut Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Senin (5/1)

Menarik Dibaca: IHSG Ada Potensi Menguat, Berikut Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Senin (5/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News