Rupiah Diproyeksi Tetap Volatil di Semester II-2026, Emiten Komoditas Ekspor Untung



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 5,75% di pekan lalu belum mampu mengangkat nilai tukar rupiah secara signifikan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis 0,05% ke level Rp 17.943 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (25/6), dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp 17.952 per dolar AS.

Analis komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai masih bertahannya rupiah di kisaran Rp 17.900 per dolar AS menunjukkan tekanan eksternal yang jauh lebih dominan dibandingkan dampak kenaikan suku bunga domestik.


Menurutnya, kenaikan BI Rate sejatinya bertujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia melalui pelebaran selisih imbal hasil (yield spread). Namun, efek tersebut tertutupi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Tertekan The Fed dan Reli Saham Teknologi

"Investor global cenderung mengabaikan imbal hasil tinggi di negara berkembang dan memilih mengamankan dana mereka ke aset safe haven seperti dolar AS," ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).

Ia menjelaskan, sentimen risk-off global dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan gangguan rantai pasok energi dunia yang memunculkan risiko inflasi. 

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) sehingga mendorong penguatan dolar AS.

Wahyu menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal ketimbang kondisi fundamental domestik.

Padahal, sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 5% dan inflasi tetap terjaga.

"Pelemahan rupiah lebih didorong oleh penguatan indeks dolar AS secara global yang menekan hampir seluruh mata uang regional maupun global, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi domestik," kata Wahyu.

Di tengah pelemahan rupiah, sejumlah komoditas justru berpotensi memperoleh keuntungan. 

Baca Juga: Entitas Asosiasi UNTR Akuisisi Saham Dua Smelter HPAL di Kawasan Industri Morowali

Wahyu menyebut komoditas berbasis ekspor seperti batubara dan crude palm oil (CPO) menjadi pihak yang paling diuntungkan karena pendapatannya diterima dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional masih menggunakan rupiah.

Ketika pendapatan dolar dikonversi ke rupiah yang melemah, nilai penerimaan perusahaan akan meningkat.

Sebaliknya, sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor menghadapi tekanan lebih besar. Salah satunya adalah industri minyak dan gas (migas), mengingat Indonesia masih berstatus net importir minyak.

Pelemahan rupiah menyebabkan biaya impor minyak mentah dan bahan bakar meningkat yang pada akhirnya berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran negara dan biaya logistik domestik.

Selain migas, logam industri hasil hilirisasi yang pabrik pengolahannya masih mengandalkan komponen atau mesin impor juga mengalami tekanan pada margin keuntungan perusahaan

Meski demikian, Wahyu menilai faktor yang paling menentukan kinerja emiten komoditas saat ini tetap berasal dari pergerakan harga komoditas global.

Menurutnya, keuntungan dari pelemahan kurs hanya bersifat tambahan. Jika harga komoditas dunia turun tajam, dampak negatif terhadap penjualan dan laba perusahaan tidak akan mampu ditutupi oleh keuntungan selisih kurs semata.

Baca Juga: IHSG Rebound 1,96% ke 5.999, Top Gainers LQ45: TOWR, JPFA, MDKA, Kamis (25/6)

"Sebaliknya, ketika harga komoditas global tetap tinggi, pelemahan rupiah akan menjadi faktor tambahan yang memperkuat profitabilitas emiten," kata Wahyu.

Wahyu juga mengingatkan bahwa penguatan dolar AS secara teori berpotensi menekan harga berbagai komoditas global karena membuat harga komoditas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar.

Komoditas yang paling rentan terhadap tekanan tersebut adalah batubara dan logam industri seperti tembaga, nikel, serta aluminium yang sangat sensitif terhadap siklus ekonomi global.

Sementara itu, minyak dan emas memiliki karakteristik berbeda. Faktor geopolitik masih dapat memengaruhi pergerakan kedua komoditas tersebut di luar pengaruh penguatan dolar AS.

Menurut Wahyu, meredanya ketegangan antara Iran dan AS belakangan ini telah menekan harga minyak dunia. Adapun, harga emas cenderung bergerak terbatas akibat menguatnya dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Baca Juga: Pabrik Kertas (TKIM) Tebar Dividen Tunai Rp 93,39 Miliar, Cek Jadwalnya

Untuk semester II-2026, Wahyu memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil seiring tingginya ketidakpastian global.

Meski demikian, intervensi Bank Indonesia di pasar valas serta optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai dapat membantu membatasi pelemahan rupiah.

Ia memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bergerak dalam rentang Rp 17.000 hingga Rp 18.200 per dolar AS pada semester II-2026.

"Batas atas Rp 18.200 mencerminkan potensi risiko jika ketidakpastian global memburuk, sementara batas bawah Rp 17.000 dapat dicapai jika aliran modal asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik seiring dengan stabilnya kondisi luar negeri," tutup Wahyu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News