Rupiah Ditutup Lebih Bertenaga di Rp 16.237 per dollar AS, Besok Masih Kuat?



MOMSMONEY.ID - Kurs rupiah lebih bertenaga melawan dollar AS pada hari ini.

Mengutip data Bloomberg, Senin (22/4), nilai tukar rupiah terhadap dollar di pasar spot ditutup di level Rp 16.237 per dollar AS, menguat 23 poin atau 0,14% dibandingkan Jumat lalu.

Mata uang Garuda berbalik unggul hari ini, lantaran otot dollar AS mengendur. Menurut Ibrahim Assuaibi, analis pasar forex dan Direktur Laba Forexindo Berjangka, indeks dollar melemah karena kekhawatiran atas suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka panjang, membuat sebagian besar pedagang bias terhadap dollar AS. 


Pada Jumat, Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menjadi bankir sentral terbaru yang memberi sinyal waktu yang lebih lama untuk penurunan suku bunga karena kemajuan inflasi “terhenti”.

Baca Juga: USD Makin Kekar, Rupiah Terdepak ke Rp 16.260 per dollar AS

Minggu ini, pelaku pasar fokus pada lebih banyak isyarat mengenai kebijakan moneter AS. Terutama data indeks pengeluaran konsumen pribadi (PCE), yang merupakan salah satu ukuran inflasi pilihan The Fed. Data tersebut akan dirilis pada Jumat dan diperkirakan akan menegaskan kembali bahwa inflasi AS masih stabil di bulan Maret. 

Isyarat lebih lanjut mengenai perekonomian AS juga akan dirilis minggu ini, dengan data indeks manajer pembelian untuk bulan April akan menawarkan lebih banyak wawasan mengenai aktivitas bisnis.

Selain itu, pasar juga akan mencermati keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada Jumat. Pertemuan pertama bank sentral tersebut setelah kenaikan suku bunga bersejarah pada Maret. Setiap isyarat mengenai kenaikan suku bunga dan perubahan kebijakan di masa depan akan diawasi dengan ketat.

Di sisi lain, meredanya kekhawatiran akan konflik yang lebih besar di Timur Tengah memberikan sedikit kelegaan pada mata uang regional, seiring dengan membaiknya selera risiko.

Baca Juga: Harga Emas Tergelincir karena Ketegangan di Timur Tengah Mereda

Dari domestik, Ibrahim mencatat, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2024 kembali surplus US$ 4,47 miliar. Secara kumulatif, neraca dagang sejak Januari-Maret 2024 mencapai US$ 7,31 miliar dolar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia surplus 47 bulan berturut-turut sejak mei 2020.

Selain itu, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Maret 2024 sebesar US$ 22,43 miliar, naik 16,40% dibandingkan Februari 2024. Peningkatan kinerja ekspor terjadi karena kenaikan non-migas terutama, logam mulia emas perhiasan, besi dan baja, serta lemak dan minyak hewan nabati. 

Sedangkan, nilai impor pada Maret 2024 mencapai US$ 17,96 miliar, turun 2,60% secara bulanan. Impor migas dan non-migas sama-sama menurun secara bulanan. 

Prediksi Ibrahim, pada perdagangan Selasa (23/4), pergerakan USD/IDR akan fluktuatif. Rupiah berpotensi ditutup menguat di rentang Rp 16.190 sampai Rp 16.270 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini