Rupiah Ditutup Melemah Imbas Nada Hawkish The Fed, Simak Ulasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah di pasar spot ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari in (24/5). Beredarnya kembali nada hawkish dari Federal Reserve (The Fed) telah menekan sejumlah mata uang termasuk rupiah.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengamati, pergerakan dolar AS stabil diperdagangkan hari ini tetap mendekati level tertinggi dua bulan sesi terakhir mengingat kurangnya kemajuan dalam negosiasi untuk menaikkan plafon utang AS.

Pembicaraan antara kedua partai politik masih berlanjut tentang pencabutan plafon utang pemerintah AS sebesar US$ 31,4 triliun. Setiap kemajuan tampaknya sulit dimenangkan dan hanya ada sedikit tanda kesepakatan akan tercapai dalam waktu dekat.


Ibrahim mengatakan, sekarang hanya ada lebih dari seminggu sebelum tenggat waktu awal Juni untuk AS. Menteri Keuangan Janet Yellen menyatakan “sangat mungkin" departemennya akan kehabisan uang tunai yang cukup untuk berfungsi seperti biasa.

Selain itu, risalah pertemuan Fed bulan Mei yang akan dirilis hari ini (24/5) akan dipelajari dengan hati-hati untuk setiap petunjuk kapan bank sentral berencana untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga.

Baca Juga: Lesu, Rupiah Spot Ditutup Melemah ke Rp 14.900 Per Dolar AS Pada Hari Ini (24/5)

Sejumlah pembicara The Fed selama seminggu terakhir telah berbicara dengan sikap hawkish tentang kebijakan moneter bank sentral yang menunjukkan kebijakan moneter dalam denominasi dolar AS menjadi perhatian utama.

Dari internal, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa transaksi berjalan kembali mencatat surplus yang didukung oleh surplus neraca perdagangan barang yang tetap tinggi.

Pada kuartal I-2023, transaksi berjalan membukukan surplus sebesar US$ 3,0 miliar atau sekitar 0,9% dari PDB, lebih rendah US$ 1,2 miliar dibandingkan surplus pada kuartal IV-2022 sebesar US$ 4,2 miliar atau setara 1,3% dari PDB.

Adapun neraca perdagangan barang pada kuartal I-2023 mencatat surplus US$ 14,7 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada kuartal IV-2022 sebesar US$ 17,0 miliar.

“Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah perbaikan defisit neraca perdagangan migas,” tulis Ibrahim dalam riset harian, Rabu (24/5).

Baca Juga: Rupiah Lanjut Melemah Pada Perdagangan Rabu (24/5), Simak Sentimen Pemicunya

Sementara itu, lanjut Ibrahim, defisit neraca jasa mengalami penurunan yang ditopang oleh kinerja jasa perjalanan (travel) yang terus menguat seiring dengan meningkatnya mobilitas dan dampak positif dari pembukaan ekonomi Tiongkok sehingga mendorong kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara.

Neraca perdagangan jasa pada kuartal I-2023 tercatat mengalami defisit sebesar US$ 4,6 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$ 5,5 miliar, namun lebih dalam dibandingkan dengan defisit pada kuartal I-2022 sebesar US$ 4,4 miliar.

Untuk defisit neraca pendapatan primer pada kuartal I-2023 tercatat sebesar US$ 8,6 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan kuatal IV-2022 sebesar US$ 9,2 miliar.  Namun, capaian tersebut meningkat dibandingkan dengan kuartal I-2022 sebesar US$ 7,9 miliar.

Ibrahim memperkirakan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp. 14.880 per dolar AS -  Rp. 14.850 per dolar AS pada Kamis (25/5). Mengutip Bloomberg, rupiah spot ditutup koreksi 0,16% ke level Rp 14.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (24/5).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari