Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.794, Pasar Cermati MSCI dan BI Rate



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/6). Pelaku pasar masih bersikap wait and see menjelang sejumlah sentimen penting, baik dari dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,18% ke level Rp 17.794 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.762 per dolar AS. 

Pelemahan juga terlihat pada kurs Jisdor Bank Indonesia yang turun 0,41% menjadi Rp 17.826 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 17.753 per dolar AS.


Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan mata uang Garuda didukung faktor eksternal karena pasar merespons positif perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. 

Baca Juga: IHSG Melemah 0,78% ke 6.172 pada Kamis (18/6), ISAT, TLKM, SMGR Jadi Top Losers LQ45

"Optimisme muncul setelah kedua negara menyepakati memorandum 14 poin yang membuka periode negosiasi selama 60 hari. Dalam kesepakatan tersebut, Iran disebut akan mengizinkan lalu lintas bebas hambatan melalui Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global," ujar Ibrahim, Kamis (18/6).

Menurut Ibrahim, kesepakatan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak berkepanjangan dari kawasan Timur Tengah. Berkurangnya risiko lonjakan harga energi turut menekan kekhawatiran inflasi global.

Namun demikian, penguatan dolar AS masih membatasi ruang apresiasi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sentimen tersebut muncul setelah bank sentral AS atau Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75%.

The Fed juga memberikan sinyal bahwa peluang pengetatan kebijakan moneter tambahan masih terbuka. Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026. Sikap hawkish tersebut mendorong penguatan dolar AS dan menekan aset berisiko.

Dari domestik, investor masih mencermati keputusan MSCI terkait status Indonesia dalam indeks pasar negara berkembang (emerging market). 

Jika MSCI memutuskan penurunan peringkat. Terlebih lagi, pada pengumuman rebalancing sebelumnya, MSCI sempat membekukan penambahan konstituen saham baru untuk Indonesia akibat kekhawatiran terkait struktur kepemilikan dan transparansi free float. 

"Selain itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%," kata Ibrahim.

Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%.

Bank Indonesia menyatakan kenaikan suku bunga tersebut bertujuan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027.

Langkah ini memperpanjang siklus pengetatan moneter BI. Sebelumnya, dalam RDG mingguan pada Selasa (9/6), BI juga menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Dengan demikian, dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, suku bunga acuan telah meningkat total 75 basis poin.

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat (19/6) masih bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 17.790 hingga Rp 17.840 per dolar AS.

Baca Juga: Loyo, Rupiah Kembali Ditutup Melemah ke Rp 17.794 Per Dolar AS Hari Ini (18/6)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News