Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.913 per Dolar AS pada Senin (12/10)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (12/10/2026).

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap daya tarik pasar keuangan domestik dan tingginya imbal hasil obligasi AS.

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.913 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,08% dibandingkan penutupan Jumat (9/10/2026) di level Rp 17.899 per dolar AS.


Baca Juga: Saham BREN dan DSSA Kompak Jeblok pada Perdagangan Senin (12/10)

Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.899 per dolar AS, melemah 0,08% dibandingkan posisi akhir pekan lalu sebesar Rp 17.884 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah berlangsung seiring dengan kerentanan pasar saham domestik terhadap arus keluar modal asing.

Kekhawatiran mengenai transparansi dan daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor masih membayangi pergerakan indeks.

Melansir Reuters, Direktur Riset ACCM Glenn Yin mengatakan, investor asing mencatatkan penjualan bersih saham sekitar Rp 2,45 triliun atau setara US$ 136,87 juta sepanjang pekan lalu, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat.

Menurut Glenn, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mahalnya harga minyak membuat pasar keuangan Indonesia rentan terhadap tekanan. Kedua faktor tersebut berpotensi menghambat arus masuk modal asing, menekan rupiah, sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Baca Juga: CPO Topang Pertumbuhan Bea Keluar September 2026, Ini Respons Astra Agro (AALI)

Di pasar valuta asing regional, pergerakan mata uang menunjukkan tren yang beragam. Won Korea Selatan menguat hingga 1.332,16 per dolar AS, level terkuat sejak Oktober 2024.

Sepanjang tahun ini, won telah menguat hampir 8% dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan.

Strategis valuta asing OCBC Christopher Wong menilai penguatan won terutama didorong oleh arus transaksi, termasuk penjualan dolar AS oleh eksportir.

Pergerakan tersebut juga berlangsung di tengah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang dan melemahnya harga minyak.

Wong memperkirakan won masih berpeluang menguat, terutama jika pasangan dolar AS terhadap won (USD/KRW) menembus secara meyakinkan area 1.320–1.330. Penurunan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi AS dan harga minyak dapat memperkuat tren tersebut.

Namun, won tetap rentan berbalik melemah apabila sentimen risiko global memburuk, mengingat mata uang tersebut relatif sensitif terhadap perubahan selera risiko investor.

Baca Juga: Bursa Asia Melemah, Kekhawatiran Belanja AI Tekan Saham Korea Selatan dan IHSG

Sementara itu, rupee India melonjak sekitar 1% setelah bank sentral India mengalihkan pembelian dolar AS oleh perusahaan minyak dari pasar spot dan mengambil langkah untuk membatasi permintaan dolar berjangka oleh korporasi.

Adapun indeks mata uang negara berkembang MSCI naik 0,3% dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan September.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News