KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai mata uang rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini (20/7/2026). Sejumlah sentimen menyeret pergerakan rupiah. Mengutip Bloomberg, Senin (20/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.948 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,15% dibandingkan dengan penutupan pada Jumat (17/7/2026) di Rp 17.921 per dolar AS. Sejalan dengan itu, rupiah dalam kurs Jisdor BI juga ditutup melemah 0,18% menjadi Rp 17.976 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang di level Rp 17.944 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,91% ke 6.231, Top Gainers LQ45: DEWA, CUAN dan BRPT, Senin (20/7) Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari sentimen eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9% secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun realisasi investasi mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1% yoy, capaian tersebut dinilai belum mampu mengimbangi perlambatan konsumsi rumah tangga dan lemahnya investasi domestik. "Di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5%," ujar Ibrahim, Senin (20/7/2026). Jika dicermati lebih dalam, kualitas pertumbuhan investasinya mulai menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Ia menjelaskan, pertumbuhan investasi saat ini semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang tumbuh 27,5% secara tahunan. Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru terkontraksi 7,8% yoy, menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.
Baca Juga: Jaya Sukses Makmur (RISE) Bangun VASA Ubud, Nilai Investasinya Capai Rp 1 Triliun Kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih percaya terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama pada sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun, pelaku usaha domestik masih cenderung menunda ekspansi akibat lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, dan ketidakpastian ekonomi. Karena itu, Ibrahim menilai pemerintah perlu mendorong investasi ke sektor-sektor padat karya seperti manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital agar mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya beli masyarakat. Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk. Untuk perdagangan Selasa (21/7/2026), Ibrahim mengatakan, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Ia menjelaskan, kedua negara saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, sementara Iran meningkatkan serangan terhadap negara-negara Teluk. Konflik tersebut masih berpusat pada perebutan kendali Selat Hormuz. Menurut Ibrahim, terganggunya aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz membuat pasar tetap mewaspadai potensi gangguan pasokan minyak global.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Menjadi Rp 17.948 per Dolar AS Senin (20/7), Pasar Menanti RDG BI "Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve, yang berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS," lanjutnya. Ibrahim memperkirakan, rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.940 hingga Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News