Rupiah Ditutup Menguat 0,28% ke Rp 17.992 Selasa (20/10), Akhiri Pelemahan Empat Hari



KONTAN.CO.ID - ​JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Penguatan ini sekaligus memutus tren pelemahan rupiah selama empat hari perdagangan berturut-turut.

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.992 per dolar AS, menguat 0,28% dibandingkan posisi penutupan Senin (19/10/2026) di Rp 18.046 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, rupiah berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menguat 0,24% ke level Rp 18.006 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 18.049 per dolar AS.


Baca Juga: Puradelta Lestari (DMAS) Raih Prapenjualan Rp 2,61 Triliun per September 2026

Penguatan rupiah sejalan dengan pemulihan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 3,1% pada perdagangan Selasa, bangkit dari posisi penutupan terendah dalam enam tahun terakhir.

Perbaikan sentimen pasar terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan sejumlah kebijakan untuk meredam tekanan jual menyusul peringatan penyedia indeks global MSCI terkait kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Perubahan status tersebut berpotensi memicu arus keluar dana dari investor pasif yang mengikuti indeks global, sehingga menjadi perhatian pelaku pasar.

Sebagai respons, BEI pada Senin (19/10/2026) mengeluarkan saham dengan kepemilikan sangat terkonsentrasi dari indeks acuannya. Bursa juga memangkas batas penurunan harga saham harian hingga separuhnya.

Langkah tersebut diambil setelah pasar saham Indonesia terkoreksi hampir 15% selama dua sesi perdagangan sebelumnya.

Investor kini mencermati efektivitas kebijakan tersebut dalam meredakan kekhawatiran MSCI dan memulihkan kepercayaan pasar.

Baca Juga: BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG, Ini Saran untuk Investor

Mengutip Reuters, Analis utama Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, penguatan IHSG berpotensi didorong oleh aksi beli investor yang memanfaatkan harga saham murah setelah koreksi tajam.

“Sebagian aksi beli saham murah kemungkinan terjadi setelah aksi jual tajam selama dua sesi terakhir,” kata Lukman.

Menurut dia, pasar juga kemungkinan merespons positif upaya otoritas untuk mengatasi kekhawatiran MSCI. Meski demikian, penguatan tersebut lebih mencerminkan perbaikan sentimen jangka pendek ketimbang perubahan fundamental prospek pasar.

Di sisi lain, pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada Rabu (21/10/2026).

Berdasarkan jajak pendapat Reuters, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya meskipun pasar keuangan domestik tengah menghadapi tekanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News