Rupiah Ditutup Rp 18.128, Pelemahan Konsumsi dan Timur Tengah Menekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar mendapat tekanan hebat hingga akhir perdagangan hari ini. Tekanan datang dari kombinasi sentimen domestik dan eksternal yang mendorong pelaku pasar kembali memburu aset safe haven.

Mengutip data Bloomberg, Kamis (9/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 18.128 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,63% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya berada di level Rp 18.014 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga sama-sama mengalami pelemahan sebesar 0,47% secara harian menjadi Rp 18.090, dari penutupan hari sebelumnya Rp 18.005 per dolar AS.


Baca Juga: Analis: Emas Jangka Pendek Sedang Diskon, Saatnya Buy on Weakness

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh memburuknya sejumlah indikator ekonomi domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

"Dari domestik, menurunnya indeks kepercayaan konsumen dan penjualan ritel Indonesia menekan rupiah," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Diketahui, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia mencatat penurunan menjadi 117,8 pada Juni 2026, turun dari 120,9 pada Mei. Meskipun masih berada di zona optimis, penurunan serentak pada indikator inti menandakan melambatnya sentimen rumah tangga menjelang paruh kedua tahun.

Kemudian Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia terbaru mengindikasikan mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai kehilangan tenaga. Melansir data Bank Indonesia (BI), Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat mengalami penurunan. Pada Mei, IPR turun 3,5 poin, menjadi 223,4 dibanding April yang sebesar 226,9.

BI juga memperkirakan IPR akan kembali turun jadi 221,6 pada Juni, sehingga dalam dua bulan indeks yang memotret daya beli masyarakat telah menyusut 5,3 poin atau sekitar 2,3% dari posisi April. 

Dari sisi eksternal, rupiah turut tertekan oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Menurut Lukman, sentimen geopolitik masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat. 

Investor akan terus mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakhiri gencatan senjata.

Sementara itu, untuk perdagangan Jumat (10/7), Lukman menilai pergerakan rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan. Pasalnya, tidak terdapat rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun Amerika Serikat, sehingga fokus pasar diperkirakan tetap tertuju pada perkembangan konflik geopolitik.

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.200 per dolar AS pada perdagangan Jumat (10/7). 

Baca Juga: BEI Umumkan 327 Emiten Belum Memenuhi Ketentuan Minimal Free Float 15%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News