KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih fluktuatif di tengah penguatan harga minyak bumi. Dalam tiga hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah kala harga minyak bumi menguat. Namun, rupiah di pasar spot hingga perdagangan tengah hari ini tercatat berbalik menguat.
Kamis (3/9/2026), rupiah spot ditutup pada level Rp 17.679 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,47% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.763 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.679 Per Dolar AS Hari Ini (3/9), Yen Melesat Tajam Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, sentimen untuk rupiah sebenarnya masih relatif positif setelah meredanya polemik seputar independensi Bank Indonesia (BI). Namun, belakangan ini rupiah memang tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia dan imbal hasil obligasi AS serta indeks dolar AS. “Faktor eksternal yang lebih mendominasi saat ini,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/8/2026). Hingga akhir tahun 2026, rupiah diperkirakan akan ada di kisaran Rp 17.400 - Rp 17.800 per dolar AS. Lukman bilang, risiko rupiah untuk kembali di atas Rp 18.000 per dolar AS masih terbuka, apabila harga minyak dunia kembali naik ke kisaran US$ 100 per barel dan imbal hasil obligasi AS terus naik. “Hal ini akan tergantung perkembangan lain ke depan,” paparnya.
Baca Juga: Erajaya (ERAA) Mau Buyback Saham Mulai Jumat (4/9), Siapkan Dana Rp 500 Miliar Menurut Lukman, untuk investasi, mata uang CNY, KRW, dan SGD masih menarik untuk dilirik investor. Alasannya, apabila tekanan dolar AS mereda, ketiga mata uang tersebut berpotensi berkinerja unggul dibandingkan mata uang lain. “Begitu pula dengan JPY, namun dengan volatilitas yang lebih besar,” ungkapnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News